Ortodoks! Katolik! Protestan! Engkau Semuanya Milikku!

27.10.87

Vassula, Aku ingin agar engkau menyatakan perasaan-Ku kepada Pastor James mengenai Garabandal.

Baik, Yesus.

Aku ingin, dan keinginan ini datang dari kedalaman lubuk Hati-Ku, agar penampakan di Garabandal diakui suci dan dihormati oleh Takhta Suci.

Vassula, maukah engkau membahagiakan Aku dan menyampaikan kepada Takhta Suci apa yang Kuminta daripadamu?

Bagaimanakah caranya, Tuhan? Bagaimanakah Engkau kehendaki aku menyampaikannya? Atas hak dan dasar apa? Siapakah aku untuk menyapa Takhta Suci! Aku memang diterima oleh Pastor James, tetapi teolog katolik yang terakhir itu hilang minatnya, karena aku tidak termasuk suatu komunitas, komunitas dia!

Tetapi, Vassula, tentu saja engkau tidak termasuk komunitas mereka; engkau milik-Ku. Aku Pencipta dan Bapa Kudus-Mu. Engkau berada di bawah wibawa-Ku.

Ya, Tuhan, kami memang di bawah wibawa-Mu. Namun hal seperti ini terorganisasi, dan ada suatu sistem yang menuntut seseorang termasuk dari komunitas Kristen. Demikianlah disampaikan kepadaku.

Semua orang sama saja dalam pandangan-Ku. Aku tidak pernah mengendaki perpecahan Tubuh-Ku. Kalianlah yang membelah diri-Ku. Kalianlah yang menentukan nasib Tubuh-Ku! Kalian melumpuhkan Aku1.

Oh, Allah!

Anak-Ku, bukankah telah Kukatakan kepadamu agar engkau menyimpan air matamu bagi Bunda-Ku2?

Ya, Tuhan, namun Engkau kelihatannya begitu terluka; aku hanya manusia …

Vassula, ini adalah karena kita berbagi rasa Piala-Ku. Rasa Piala-Ku pahit.

Sampaikanlah kepada Takhta Suci, bahwa Akulah yang mengutus engkau kepada mereka. Dengarkan Aku, bila mereka bertanya dari komunitas manakah engkau, katakanlah kepada mereka bahwa engkau milik-Ku dan bahwa engkau berada di bawah Wibawa-Ku.

Tuhan, aku bukannya mau berdebat, namun apakah aku tidak bisa mengatakan bahwa aku adalah seorang Ortodoks? Aku seorang Ortodoks.

Ortodoks! Katolik! Protestan! Kalian semua milik-Ku! Kalian semua adalah Satu dalam pandangan-Ku! Aku tidak membeda-bedakan siapa pun. Jadi, buat apa takut? Mintalah izin untuk bertemu dengan Yohanes Paulus, Paus-Ku yang terkasih. Ia tidak akan membeda-bedakan.

Vassula, katakanlah kepadanya hal ini: “Terkasih, Aku, Tuhan, sambil mengetuk. Maukah engkau mendengar panggilan-Ku? Maukah engkau membuka pintunya? Bila memang demikian, Aku akan masuk ke rumahmu dan turut serta bersantap denganmu, sebelah menyebelah. Buktikanlah dirimu sebagai pemenang, dan Aku akan mengizinkan Engkau berbagi Takhta-Ku”.

Dengarkan Aku, dengarkanlah apa yang sedang disampaikan oleh Roh kepada Gereja-gereja.

Allahku, bagaimana, dengan cara apakah aku harus memuaskan keinginan-Mu?

Telah Kunantikan pertanyaan-Mu itu3. Biarlah Pastor James menasihati engkau bagaimana caranya.

Anak-Ku, Aku mengasihi engkau. Izinkanlah Aku memberi makan kepadamu.

Allahku, hanganlah meminta! Aku adalah ciptaan-Mu, milik-Mu. Lakukanlah padaku sekehendak Hati-Mu! Aku mengasihi Engkau, sebab Engkau memberi aku makan dan memenuhi diriku. Aku memberkati Engkau.

Mzm 23 →

Aku Gembalamu.
Bersama-Ku engkau takkan kekurangan apa pun.
Aku membaringkan engkau, di padang yang berumput hijau.
Jiwa terkasih, Aku menuntun engkau, ke air yang tenang,
menyegarkan jiwamu.
Aku menuntun engkau, melalui jalan kebajikan,
demi kemuliaan Tubuh-Ku.
Meskipun engkau melewati lembah yang kelam, jangan takut.
Sambil berada di sampingmu, Aku akan membesarkan hatimu.
Aku akan memberimu makan di hadapan penganiayamu.
Aku telah mengurapi engkau dan selalu akan mengisi engkau.
Sebab Aku lembah Kasih penuh Kerahiman tanpa batas.

Mari dan hiduplah di kedalaman Hati-Ku.

O Tuhan, Engkau Terangku dan penyelamatanku. Aku tak perlu takut. Aku tahu bahwa Engkau akan melindungi aku. Aku berterima kasih kepada-Mu dengan segenap hatiku. Tuhan Allahku, aku akan memuliakan Nama-Mu untuk selama-lamanya. Kasih-Mu kepadaku demikian agungnya. Kasihanilah aku dan ketidakmampuanku.

Bunga, tetaplah kecil. Tumbuhlah dalam roh. Isaplah dari Keutamaan-keutamaan-Ku. Mari, biarlah Aku selalu mengukir sabda-Ku padamu.

Ya, Tuhan, aku berbahagia bersama Engkau.

Kasih tidak pernah akan meninggalkan engkau. Mari, “kita”?

Ya, Tuhan.

  1. Terjadilah saat hening sejenak dan Yesus kedengarannya demikian pahit dan sedih. Aku merasa bersalah karena mengingatkan Dia akan hal itu.
  2. Meskipun Dia menyatakan hal ini dengan keras, aku tidak dapat mengenyahkan pengamatanku bahwa Ia sama sedihnya seperti aku
  3. Aku menyadari bahwa Allah telah menuntun aku sehingga mengajukan pertanyaan ini (Aku merasa bahwa aku menurutinya).

Korban Tubuh dan Jiwa-Ku

21.10.87

Hari ini aku menerima berita yang mengecewakan. Teolog katolik dari Lyon, yang dukungannya amat kuharapkan, mendingin antusiasmenya setelah ia mengetahui bahwa aku tidak termasuk komunitas Katolik. Ia mengatakan bahwa aku menghayati Allah. Namun ia tidak memahami bahwa penghayatan tersebut tidak sekedar itu saja tetapi ada sesuatu yang lebih dari itu.

Allah memberikan amanat kepada kita semua; malah menjangkau para pejabat gereja maupun Takhta Suci. Ya, memang, mengapa ia harus percaya? Aku memang ibaratnya bukan siapa-siapa. Seperti yang pernah kukatakan, seandainya aku salah seorang dari mereka, pasti aku diterima, dan mereka pasti akan berupaya memperhatikan amanat ini.

Justru inilah yang hendak diajarkan Allah kepada kita, yaitu supaya kita jangan saling membeda-bedakan. Kita semua berada di bawah satu wibawa, wibawa Allah. Mengapa kita harus saling membeda-bedakan? Kita pun cenderung membeda-bedakan orang atas dasar kepribadiannya. Memang, aku tidak mengenakan jubah biarawati, namun pentingkah itu?

Allah, bolehkah aku bertanya ‘mengapa?’ Dia telah memilih aku dan menghendaki aku yang seperti ini.

Vassula, engkau sedang mengalami hal-hal yang sama seperti aku, ketika Aku dalam daging di bumi. Ingatkah engkau, Vassula, sewaktu orang-orang Farisi bertanya kepada-Ku dari manakah datangnya wibawa-Ku untuk berkhotbah?

Ya, Tuhan.

Terkasih, Amanat-Ku berasal dari Aku. Segenap wibawa akan datang dari Aku. Engkau milik-Ku. Apakah sekejap pun Aku pernah menulis bahwa wibawamu akan diberikan oleh manusia? Anak-Ku yang kecil, sandarkanlah kepalamu pada Sang Kebijaksanaan.

(Aku menjadi gusar dan sedih, air mataku bercucuran dan aku terpaksa berhenti menulis sejenak, agar tenang kembali).

Korban-Ku, Aku telah memilih engkau untuk menjadi korban Hati-Ku, siksaan manis jiwamu, korban Tubuh dan Jiwa-Ku, melalui penolakan, kecemasan dan kesengsaraan. Engkau akan mengalami Hidup-Ku di bumi. Vassula, Aku akan memberikan semua itu kepadamu dalam takaran kecil setiap kalinya, sesuai dengan daya serap jiwamu. Engkau akan, malah sudah, ditolak, dituduh, dicemoohkan, disisihkan.

Vassula, masih banyak penderitaan yang akan kaualami. Namun, di lain pihak, Aku telah memberikan kepadamu mereka yang percaya akan Amanat Damai dan Kasih-Ku. Merekalah saksimu. Kuperingatkan bahwa engkau pun akan dikhianati.

Oleh seseorang?

Vassula, Aku mengasihi engkau. Aku, Tuhan, adalah penopangmu. Datanglah kepada-Ku untuk dihibur. Biarkanlah Damai-Ku membungkus dirimu. Mari, segenap wibawa datang dari Aku dan bukan dari manusia. Engkau milik Wibawa-Ku, yaitu, Satu. Satu Wibawa saja.

Allahku, terima kasih atas dukungan-Mu. Terima kasih pula atas para saksi yang Kauberikan kepadaku. Aku tidak akan mengangkat suaraku lagi. Aku harus menepati kata-kataku, yaitu:

“Lakukanlah apa pun yang Engkau kehendaki daripadaku, entah itu kesenangan entah kesengsaraan, aku akan tetap berterima kasih kepada-Mu.
Jika Engkau menghendaki agar aku dilempar, maka biarlah aku terlempar.
Jika Engkau menghendaki agar aku dirangkul, aku tidak layak untuk itu.
Lakukanlah apa yang paling dikehendaki oleh Hati-Mu. Aku milik-Mu.”

Ya, jadilah lentur, agar Aku dapat mengukir Sabda-Ku dalam dirimu secara mendalam. Ingatlah akan Kehadiran-Ku dan Kasih-Ku.

Domba-domba-Ku Tercerai Berai

4.4.87

Selama berkeliling di Swiss, aku memperhatikan orang dan cara hidup mereka. Banyak orang, sama seperti di mana saja, menghadapi masalah- masalah sehari-hari; ada yang menghadapi lebih banyak masalah daripada orang lain. Banyak orang tampaknya sangat tidak bahagia dan penuh perjuangan. Sebelum Allah mendekati aku, aku tidak pernah menyadarinya.

Ya, Vassula, Aku ingin engkau melihat segala sesuatu, Aku ingin engkau memperhatikan dan mendengar apa saja kata mereka. Aku sedih waktu mendengar dan memperhatikan domba-domba-Ku. Mengapa mereka melupakan Aku, padahal Aku adalah Penghibur mereka? Aku mampu menghibur mereka. Mereka dapat minta pertolongan kepada-Ku.

Saat ini aku mulai berpikir-pikir, apakah ini Yahweh atau Yesus.

Vassula, Aku adalah Satu. Aku adalah Satu! Vassula, Aku adalah Allah yang telah memberi hidup kepadamu. Aku telah menetapkan Sabda-Ku, Aku telah datang ke bumi dalam daging. Aku adalah Satu. Aku memberkati engkau, Vassula. Trinitas Kudus ada dalam Yang Satu. Aku adalah Satu.

(Aku kebetulan berpikir bahwa aku akan menanyakan hal ini kepada para imam).

Engkau akan belajar bersama Aku.

Kemudian…

Putri, setelah engkau mengerti, betapa dunia sudah tidak peduli akan Aku, engkau akan mengerti kepahitan-Ku. Piala Kerahiman-Ku penuh, dan Piala Keadilan-Ku penuh juga. Mereka mendukakan Aku. Mereka menimbulkan revolusi-revolusi1, memberontak terhadap Aku dan terhadap Hukum-Ku. Aku adalah Allah yang sama, Yang Hidup. Tetapi umat-Ku tidak mengenal takut lagi. Mereka menantang Aku, membangkitkan amarah-Ku! Menciptakan mereka adalah sukacita-Ku. Mengapa mereka memberontak melawan Aku? Kepada siapakah mereka dapat minta tolong? Aku menderita. Ke manakah – menurut mereka – mereka mengarah? Tubuh-Ku letih dan terluka. Tubuh-Ku membutuhkan istirahat dan perlu diberi kelegaan.

Apakah ini menyangkut Gereja, Tuhan?

Ya, Tubuh-Ku ialah Gereja. Vassula, Aku ingin memulihkan Gereja-Ku.

Aku ingin mempersatukan semua imam-Ku bagaikan suatu bala tentara, bala tentara penyelamatan. Domba-domba-Ku tercerai-berai. Semua imam harus bersatu.

Allahku, aku sendiri telah dibaptis sebagai Ortodoks-Yunani. Tuhanku, siapa Yang Engkau maksudkan: orang-orang Katolik atau Protestan, sekte-sekte ataupun agama-agama lain? Bila aku berani memper tanyakannya kepada-Mu, sebab begitulah kenyataannya.

O Vassula, Vassula. Aku adalah Satu. Aku, Allah, adalah Satu. Semua anak-Ku telah tercipta oleh Tangan-Ku. Mengapa semua anak-Ku itu terpisah-pisah? Aku menghendaki Kesatuan2.

Aku menghendaki, supaya anak-anak-Ku bersatu. Aku adalah Satu Allah dan mereka harus mengerti bahwa Trinitas yang Kudus seluruhnya Satu! Roh Kudus, Bapa yang Kudus dan Yesus Kristus, Putra, ketiga-tiganya ada dalam Yang Satu.

Vassula, melekatlah kepada-Ku, belajarlah daripada-Ku.

Allah-Ku, bagaimanakah halnya dengan Terang itu?

Aku adalah Terang. Aku adalah Satu.

  1. Aku menduga: revolusi-revolusi keagamaan.
  2. Kesatuan. Aku malah tidak berani menyatakan pemikiranku, macam apakah keinginan-keinginan Allah itu!!!. Aku telah mengerti …

Aku Akan Menjadikan Engkau Altar-Ku

22.3.87

Ketenanganlah yang Kusukai. Engkau harus berkarya dengan tenang, tidak tergesa-gesa. Aku telah kembali dengan buku-Ku.

Ada apa lagi dalam buku itu?

Di dalamnya telah Kutuliskan nama sejumlah jiwa yang akan menghidupkan Nyala-Ku, Nyala Kasih. Maukah engkau baca tempat yang akan Kutunjukkan kepadamu?

Ya Tuhan. Aku cemas, karena buku kecil yang tidak dapat kubaca itu.
(Tepatkah penglihatanku bahwa sampulnya lembut dan keemasan?)

Ya, sampulnya keemasan. Lihatlah ke dalamnya dan bacalah. “Aku akan menjadikan engkau altar-Ku; di atasnya akan Kutempatkan keinginan-keinginan Hati-Ku yang membara. Nyala-Ku akan hidup dalam diri mu. Timbalah dari Hati-Ku dan penuhilah hatimu. Aku, Tuhan, akan mempertahankan Nyala-Ku bernyala selama-lamanya.” Maukah engkau sekarang mencium buku-Ku, putri?

(Aku menciumnya.)

Akan Kukatakan kepadamu.

(Aku punya sebuah pertanyaan.)

Inilah bimbingan rohani bagi jiwa-jiwa pilihan-Ku. Sekarang engkau sudah tahu.

Kemudian gelombang ketidakpastian dan keragu-raguan menguasai aku lagi.

Vassula, jangan takut. Inilah Aku, Yesus. Dengarkanlah, hai terkasih, seluruh bimbingan berkaitan dengan penderitaan juga. Dalam kasusmu, ketidakpastianlah yang menimbulkan penderitaanmu. Bukankah sudah Kukatakan kepadamu bahwa penderitaan memurnikan jiwamu? Terimalah ini, dan biarkanlah Aku dengan bebas berbuat apa yang terbaik bagimu. Biarkanlah Aku bertindak dalam dirimu. Maukah engkau?

Aku akan melakukannya, bila inilah Engkau, Yesus.

Aku adalah Yesus, Juru Selamatmu!

Kita akan menderita bersama-sama, kita akan berjuang bersama-sama. Mari, bersandarlah pada-Ku. Mari kita membaca bersama-sama.

Kemudian:

Aku di sini. Hiduplah demi Aku. Muliakanlah Aku dengan mengasihi Aku. Mari, semuanya ini demi kepentingan Kasih dan Damai-Ku. Jangan lah pernah engkau menolak Aku. Si jahat senantiasa akan berusaha dan campur tangan untuk menghentikan rencana-Ku. Tetapi Aku akan menang. Maka andalkanlah Aku.

Tetapi, Tuhan, bolehkah aku mengeluh mengenai sesuatu?

Bersikaplah bebas terhadap Aku, Vassula.

Aku ingin mengatakan kepada-Mu, apa yang menyusahkan aku: barangkali apa saja yang kukatakan atau kupikirkan, sesungguhnya salah, maka apa saja yang kulakukan, salah pula. Dalam kenyataannya aku jadi tidak punya dukungan apa pun. Maksudku, aku di sini, sambil menuliskan amanat-amanat yang kuterima daripada-Mu. Nah, orang-orang lain rupanya mendapat amanat yang sama seperti aku. Bimbingan lain ataupun amanat-amanat yang berasal daripada-Mu, diterima oleh orang-orang lain pula. Tetapi orang-orang itu pada umumnya tinggal di biara-biara. Mereka dikelilingi oleh kaum religius, imam, uskup, dan seterusnya. Ketika pendekatan adi-kodrati terjadi pada mereka, mereka sunguh-sungguh diamati dan diperhatikan dari dekat. Mudah bagi mereka menyerahkan tulisan mereka kepada pemimpin biara, lalu tulisan itu diserahkan kepada uskup dan kemudian kepada paus. Mereka semua menerimanya sebagai tulisan yang datang daripada-Mu. Mungkin aku keliru, tetapi tampaknya mereka lebih mudah menerimanya dari seseorang yang berasal dari lingkungan mereka sendiri, yang mereka kenal dengan baik. Jadi, tulisan itu diedit lebih mudah untuk diterbitkan, setidak-tidaknya sebagaian saja1.

Lalu, lihatlah aku. Aku telah mendatangi para imam. Kebetulan mereka Katolik. Bagiku yang beragama Ortodoks-Yunani karena baptisan, bukan masalah siapa mereka itu. Juga seandainya aku Katolik, dan para imam itu Protestan. Aku tidak memilih-milih, sebab kita semua Kristen. Beberapa imam sudah mengetahui tulisan ini sekarang. Namun reaksi mereka masing-masing berbeda-beda seperti siang dan malam.

Salah seorang dari mereka hingga sekarang berkata, bahwa ini berasal dari si jahat. Dengan kata lain, aku ini kerasukan, sebab aku kerasukan suatu roh. Tetapi aku tahu bahwa ini berasal daripada-Mu, Allah Yang Mahakuasa. Setelah membaca sebagian kecil amanat ini, imam itu langsung menentukan sikapnya dan tidak pernah mau mengubahnya. Kalau suatu ketika ia akan mengerti bahwa kau tidak kerasukan, mungkin ia akan berpendapat bahwa ini hasil bawah sadarku. Ya, apa saja akan dikatakannya, kecuali bahwa ini berasal daripada-Mu.

Lalu reaksi seorang imam lain. “Ya, teruskanlah menulis, sebab ini ilahi dan berasal dari Allah.” Jadi ia percaya bahwa ini sabda Allah. Tetapi ia terlalu sibuk untuk bertanya lebih lanjut ataupun mengikuti perkembangannya, Inilah yang mengherankan aku. Kalau ia percaya bahwa Allah berusaha mengungkapkan suatu amanat, mengapa ia tidak menyibukkan diri lebih lanjut untuk mengetahui apa ini sebenarnya?

Imam yang ketiga pada waktu diberi penjelasan, mendengarkan dengan perhatian karena tugas, sambil sekali-kali memperhatikan jam, lalu berkata, “Baik, teruskanlah, ini menakjubkan, tulislah terus!” Aku minta supaya ia datang kepadaku kapan saja untuk membicarakan hal ini. Aku tidak pernah melihatnya lagi.

Seorang imam lain lagi telah kuberi penjelasan, dan setelah membaca satu atau dua halaman, ia berkata, “Aku tidak mau menyatakan pendapat apa pun. Tetapi kami yang beragama Katolok diingatkan, bahwa si jahat berkarya dengan cara yang sama pula2. Saya tidak mengatakan bahwa ini berasal dari si jahat, melainkan kami diajarkan, supaya hati-hati.”

Masuk akal – kukatakan – tetapi karena semua setuju mengenai satu hal, yaitu bahwa “ini memang perkara adikodrati”, maka mengapa ini tidak diperlakukan secara lebih sungguh-sungguh untuk memahami dan menjelaskannya? Sebab bagaimanapun juga, mereka mencari Allah.

Imam pertama yang mengatakan bahwa ini berasal dari si jahat, mengatakan pula kepadaku, bahwa, “Allah memberi amanat, dan ada banyak buku yang berisikan amanat di seluruh dunia, sehingga hal ini sangat umum. Ada begitu banyak buku bimbingan bagi orang-orang yang menempuh jalan adikodrati, sehingga hal ini sangat umum, tetapi kebanyakan berlaku bagi orang-orang dari lingkungan mereka sendiri.”

Imam lain lagi mengatakan bahwa memang ada yang disebut “Wahyi ilahi Hati” dan wahyu itu berasal dari Allah. Lalu ia menunjukkan kepadaku alamat seorang mistikus profesional yang dapat kujumpai untuk berbicara dengannya.

Aku tahu bahwa seandainya aku “salah seorang dari mereka”, persoalannya akan lebih mudah. Tetapi aku justru tidak berasal dari lingkungan mereka, lagi pula penampilanku menimbulkan kejutan.

Aku adalah Yesus, Vassula, bersandarlah pada-Ku dan beristirahatlah.

Era, o era! Apakah engkau menyatakan sikap sebelum memperhatikan Sabda-sabda-Ku, biar sekejap saja? Bukankah engkau seolah-olah memuliakan Aku dan melindungi Aku, tetapi dengan tidak sengaja mengejek Aku? Vassula, Aku mengasihi engkau. Bersandarlah pada-Ku, sayang-Ku.

Tuhan, ada yang lain lagi. Bila aku menyatakan ataupun menyampaikan kepada-Mu keragu-raguanku, aku yakin bahwa aku melukai Engkau. Karena aku ragu-ragu. Dan seandainya aku tidak ragu-ragu, padahal ini bukan bimbingan-Mu, aku melukai Engkau juga, sebab aku memang berbuat demikian, Maka apa pun yang kulakukan, aku melukai Engkau, entah aku percaya entah tidak percaya bahwa ini berasal daripada-Mu; apa pun pikiranku, aku melukai Engkau. Dan ini membuat aku sedih, sebab akulah orang terakhir yang berniat melukai Engkau! Maka aku juga menderita karenanya.

O, putri, jangan bersedih. Jangan pernah berpikir bahwa Aku dilukai oleh kasih. Engkau hanya makan dari Aku. Aku adalah Yesus, Yesus Kristus, dan Roti-Kulah yang engkau makan.

Jiwa, o jiwa terkasih, jangan menyiksa dirimu lagi. Percayalah, terkasih, dan rasakanlah dirimu dikasihi oleh-Ku.

Ampunilah aku, karena aku begitu lemah …

Aku mengampuni engkau sepenuhpenuhnya. Rasakanlah, betapa Aku mengasihi engkau. Kelemahanmu sangat mempesona Aku, kelemahanmu yang tidak terhingga! Kemalanganmu tidak dapat diungkapkan dengan kata. Mari kepada-Ku, ke sini, ke dalam Hati-Ku. Biarkanlah jiwamu sepenuh-penuhnya hilang dalam Aku. Jadilah surga-Ku. Aku mengasihi engkau.

Terimalah Damai-Ku sekarang.

  1. Naskah-naskahnya diakui, sebab tanpa pengakuan itu Sabda dapat terasa berat.
  2. Mungkin saja, tetapi berapa lama? Sampai saatnya orang banyak berbalik kepada Allah? Sebab orang banyak sudah mulai berbalik, dan ini baru permulaan …

Kesaksian setelah membaca Buku True Life in God.

Setelah membaca buku True Life in God by Vassula Ryden, tidaklah heran mengapa Yesus mengatakan di dalam buku itu bahwa semua Amanat – amanat Yesus yang tertulis dalam buku True Life in God itu dijaga oleh para Malaikat Allah dengan penuh semangat berapi api di Surga. Karena setelah saya membaca amanat Yesus dalam buku ini, saya sungguh merasakan suatu pandangan, perasaan, pengetahuan yang baru tentang Allah yang  merubah seluruh cara hidup dan mindset saya sehari – hari. Suatu anugerah besar bagi saya karena saya merasa tidak mungkin meraihnya sendiri, ini semua hanya semata – mata pemberian gratis dari Allah untuk umatnya yang malang dan bodoh ini.  Dengan buku ini seolah – olah kita bisa secara instan mengerti keagamaan terutama spiritualitas Katoliknya merasakan keakraban dengan Allah, yang mana biasanya keakraban dengan Allah itu butuh waktu bertahun – tahun lamanya diiringi doa dan meditasi. Saya tidak mengatakan bahwa doa dan meditasi tidak penting. Itu penting sekali dan masih saya lakukan untuk pencapaian keakraban dengan Allah (transformasi dengan Yesus) semaksimal mungkin. Saya hanya ingin mengatakan bahwa semenjak membaca buku ini, saya seperti dibawa langsung pada keakraban yang sepertinya seharusnya digali bertahun – tahun lamanya. [Read more…]

1-Kehilangan Arah Hidup

kompasSemasa kecil, di kota Malang, saya dididik dalam keluarga Katolik yang lumayan taat, dengan disiplin yang ketat. Semua kegiatan keagamaan diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Mengikuti Misa Kudus hari Minggu, hari biasa dan Jumat pertama; Ibadat Pujian Sabtu sore; mengaku dosa seminggu sekali; berpantang dan puasa pada masa Paskah; doa bangun tidur; doa sebelum dan sesudah makan; doa malam bersama anggota keluarga; kegiatan komunitas-doa bersama dan lainnya; misa  misa dalam masa Natal dan Paskah; mohon misa kudus pada saat saat khusus:  saat ujian sekolah, bagi arwah yang meninggal,  syukuran; adalah hal hal yang biasa dilakukan. [Read more…]