Bagi Yang Tidak Bisa Mengalami Sukacita

Saya kok tidak bisa mengalami sukacita ya? Itulah pertanyaan saya di depan kelas SEP tahun 2004 pada saat saya diberi kesempatan bersaksi. Itulah pengakuan saya, karena semua dalam kesaksiannya berlomba menjadi yang sudah baik. Tapi memang saya berkata jujur, karena memang demikian halnya. Saya tidak mudah bergembira. Selalu kelihatan serius. Padahal saya harusnya bergembira atau bersukacita.

Inilah contoh mengapa saya harus bergembira, saya ambilkan dari buku Misi Evangelisasi BAB II :

Kata ‘evangelisasi’ berasal dari sejarah kuno. Apabila seorang budak dipilih untuk membawa kabar gembira mengenai kemenangan di dalam peperangan kepada penguasa. Pembawa kabar gembira ini kemudian dianugerahi kebebasan menjadi orang “merdeka”. Karena itu dalam membawa kabar gembira yang dibawanya, ia berlari kencang, hampir –hampir menari-nari dengan gembira, karena tugasnya itu akan menghasilkan kebebasan bagi dirinya.

Nah begitulah seharusnya kita sebagai orang-orang Kristiani di dalam mewartakan kabar gembira Kristus serta kemenangan-Nya atas dosa dan maut. Kemenangan-Nya telah membebaskan kita dan menjadikan kita anak-anak Allah yang penuh kegembiraan. Kenyataan itulah yang dirumuskan dalam istilah “evangelisasi”. Penginjilan adalah pewartaan kabar gembira.

Pelajaran ini sebelumnya telah saya terima, tapi saya tetap tidak bisa bergembira. Padahal saya tahu arti penjelasan tersebut. Dalam Kitab Suci juga tertulis : “Bersukacitalah dan bergembiralah……” ; atau “….sukacitamu menjadi penuh”. Barangkali saya terlalu lama menjadi orang yang berdosa.

Sampai pada hari Minggu tgl 18 April 2010 saya teringat kembali kepada masalah itu ketika seorang Pastor dalam kotbahnya mengatakan:

“Apabila seorang Kristiani tidak merasa bergembira, atau bersuka-cita maka dia tentu bermasalah. Seharusnya ia bersuka–cita dalam hidupnya dan selalu bergembira.”

Saya bermasalah! Itu membuat hati saya bersedih, karena saya bermasalah. Hal ini membuat saya berpikir, kenapa ya, padahal saya tidak merasa punya masalah. Karena sudah terbiasa selalu serius maka lupalah saya akan hal tersebut, sampai pada hari Rabu 21 April 2010.

Saat itu saya sebagai Asisten Imam di Gereja Paroki saya, saya bertugas mengirim komuni kepada orang sakit. Didalam ibadat yang sudah saya lalukan beberapa kali saat itu terbaca oleh saya kata-kata : “Saudara terkasih, kita sudah diangkat menjadi anak Bapa disurga. Maka marilah kita bersama-sama menyapa Dia sebagai Bapa kita dengan menggunakan doa yang diajarkan oleh Yesus Sang Putra. Bapa kami…”

Kemudian berlanjut, dalam lagu Curahkan Rahmat, Puji Syukur 603 yang ada di lembar terakhir kitab tersebut terbaca kata-kata yang biasanya tidak saya resapkan :

(Refrain) “Curahkan rahmat dalam hatiku, ciptakan hati dan semangat baru.(Bait 1) Engkau Kusucikan dan Kubersihkan dari cinta diri, engkau Kuhidupkan dan Kukobarkan cinta di hati. (Refrain) (Bait 2) Hatimu yang kaku, keras dan beku, Kuambil darimu, ambilah dariKu semangat baru dalam karyamu.”(Refrain)

Saya seolah-olah terbangun sebentar dari tidur tetapi kemudian tertidur lagi.

Sampai pada kemarin tgl 25 April 2010 minggu sore, mudah-mudahan ini menjadi yang terakhir. Dalam Injil hari minggu itu, yang telah saya dengarkan dua kali karena hari Sabtu sore saya juga bertugas membagi komuni di gereja, terdengar oleh saya kata-kata sebagai berikut (Yoh 10: 27-30) :

“Domba –dombaKu mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorangpun tidak akan merebut mereka dari tanganKu …”

Terdengar kata-kata “pasti” dalam Injil tersebut yang sungguh menarik perhatian saya. Kemudian saya mengambil kaca mata untuk membaca lagi teks yang ada untuk memastikan bahwa pendengaran saya tidak salah. Dan ternyata benar. “mereka pasti tidak akan binasa sampai selama -lamanya” Itulah jaminan dari Tuhan Yesus. Inilah kata-kata yang paling jelas yang saya tangkap. Saya menjadi bersukacita dan munculah semangat baru! Rasanya saya bergembira, saya merasa hidup kembali. Berkat Tuhan Yesus yang telah membangunkan saya dari tidur. Rupanya penyakit yang telah saya idap sejak kecil adalah penyakit “cinta diri” (lihat teks lagu) yang telah begitu melekat. Dalam bahasa lain disebut egois, atau lainnya lagi yang merupakan prinsip hidup saya adalah “saya hidup sendiri; tidak mengganggu orang lain dan saya tidak mau diganggu.”.Padahal prinsip Tuhan Yesus lain, dimana kita diminta “saling tolong-menolong” yang mengindikasikan adanya saling kasih yang merupakan perintah pertama dalam hidup. Saya rasanya dibebaskan dari beban berat, jadi selalu serius itu capai sekali!

Kemudian saya mempunyai ide untuk membagikan pengalaman saya kepada saudara-saudara barangkali ada yang mengalami hal yang sama. Semoga tidak ada. Kalau saya setelah ini masih tidak bisa bersuka cita, tidak tahu lagi saya harus dibagaimanakan.

Terpujilah Kristus!

Tetapi, ada perkembangan baru! Sekarang Hari Raya Pentakosta tgl 23 Mei 2010. Kemarin adalah hari terakhir novena mohon 7 karunia Roh Kudus yang saya ikuti. Romo yang membawakan Misa Kudus sama dengan Romo yang dulu mengatakan “Apabila seorang Kristiani tidak bergembira atau bersuka cita tentu dia bermasalah”. Dia juga yang membawakan homili yang isinya bersyukur. Kita punya banyak sekali alasan untuk bersyukur kepada Tuhan, mengapa kita jarang atau tidak pernah bersyukur?

Dalam buku Hidup Sejati Dalam Allah, yang didektekan oleh Tuhan Yesus kepada Vassula BC 18.5.93 Allah Bapa bersabda : ”….dan jalanilah setiap hari seolah-olah hari itu hari terakhir hidup kalian dibumi.”

Bahkan kita bisa bangun di pagi hari, besoknya, kita layak bersyukur karena tidak mati,masih hidup. Ada hari baru bagi kita. Pagi hari tadi pikiran saya kembali ke situ. Saya pikir, ditambah dengan Kabar Gembira,ditambah dengan kepastian bahwa kita akan memperoleh hidup kekal, ditambah dengan bahwa kita telah diangkat menjadi anak Bapa, ditambah lagi dengan teladan Yesus untuk rela berkorban, rela menderita, maka dalam segala hal kita harus bersyukur. Kemudian sukacita akan muncul. 1 Tesalonika 5:18 mengatakan secara jelas : “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah didalam Kristus Yesus bagi kamu”. Dan diulangi oleh Filipi 4:4,6 mengatakan “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah ! … nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

Mengetahui hal ini kemudian saya mengalami sukacita! Mengucap syukur secara bersungguh–sungguh ,dalam suka maupun duka. Itulah kuncinya.

Dalam Puji Syukur lagu no. 657 bait kedua tertulis :”Muliakanlah Tuhan Allah dalam suka dukamu.”

Apabila saya mengalami sesuatu yang tak menggembirakan, saya sudah menandai, dibalik kejadian yang tak menggembirakan itu, adalah hal terbaik bagi saya.

Singkap kelesuan, tidak bisa bersuka cita saya dibuka oleh Roh Kudus. Saya menjadi suka cita. Saya kemudian melakukan adorasi kontemplatif dengan tidak ada kesulitan menyusun kata –kata. Saya bersyukur kepada Tuhan Yesus!

Saya kemudian sadar, bahwa sukacita adalah salah satu buah Roh, yang hanya diberikan oleh Roh Kudus kepada yang kepadanya Dia mau untuk memberi. Dan waktunya sangat mendukung, yaitu setelah serangkaian pengalaman saya yang saya tulis diatas; setelah novena habis; dan saya diberi kesadaran akan hal itu pada Hari Raya Pentakosta !

Bukankah Yoh 14:26 mengatakan : ” tetapi Penghibur yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam namaKu, Dialah yang akan mengajarkan sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadanu.”

Seolah –olah saya sudah dipersiapkan sebelumnya untuk merasakan sukacita, pada hari ini!

Selamat tinggal kelesuan! Selamat datang sukacita!

Petrus C.A.