2-Membaca Kitab Suci dan Sekolah Evangelisasi Pribadi

sang-sabdaBukannya saya tidak pernah membaca Injil, kadang-kadang saya membacanya tetapi hanya sebagian kecil dan bagian yang saya baca asal saja dan hanya untuk sekedar membaca dalam arti tidak ada target/ rencana untuk mengetahui semuanya; dimana yang telah pernah saya baca tidak sampai seperseratus dari keseluruhan Kitab Suci.

Tetapi kali ini saya ingin membaca semuanya, karena saya berpikir untuk mengerti semuanya harus membaca mulai dari depan seperti halnya pelajaran disekolah; sebelum belajar dikelas dua harus belajar kelas satu dulu karena pasti berhubungan.

Maka mulailah saat bersejarah itu bagi saya. Saya membaca hampir selalu sambil tiduran,dan selalu segera mengantuk. Karena udara Surabaya panas maka membaca hanya memakai pakaian rumah yaitu pakai singlet saja. Membacanya seperti membaca koran, tidak berdoa dahulu dan tidak merenungkan. Target saya adalah sebelum keburu mati saya harus sudah pernah membaca Injil secara keseluruhan. Saya tidak sampai berpikir apakah itu cukup atau tidak untuk mengantar saya ke sorga.

Berbicara mengenai kesulitan yang saya alami, ada banyak sekali. Pertama rasa kantuk (sampai kadang kadang bukunya terlepas dari pegangan). Kemudian hasil membacanya tidak pernah sampai dapat banyak (belakangan saya tahu ternyata setiap kali saya membaca, saya membaca ternyata terlalu banyak).  Sambil tiduran paling hanya dapat 6 halaman. Awalnya malah hanya 2 halaman,  berhenti membaca karena mengantuk.

Kadang kadang saya membaca dalam perjalanan misalnya saat naik KA, atau di mess perusahaan yaitu kalau sedang dinas luar kota; dengan maksud untuk memanfaatkan waktu luang.  Selain itu kesulitan tentang isi Injil juga saya alami. Misalnya kok isinya peperangan, perselingkuhan, perjinahan, anak kawin sama bapaknya  dlsb. Dalam hal ini, pernah saya berhenti membaca, tapi akhirnya mulai membaca lagi setelah beberapa bulan yaitu setelah sadar: lha ukuran perjanjian baru dipakai untuk menilai perjanjian lama, ya tentu saja nggak cocok.

Kadang kadang tanpa suatu sebab saya tidak membaca cukup lama sampai lupa dulu membacanya telah sampai di mana. Pernah merasa ceritanya kok nggak ganti-ganti, kok dulu rasanya telah pernah membaca. Ternyata saya membaca kitab Ulangan, ya tentu saja karena memang diulang.  Akhirnya singkat kata saya menyelesaikan membacanya yaitu sesaat sebelum pensiun umur 55 th persis pada hari ulang tahun saya (kayak hadiah); dimana hasil membaca dengan progress lembar halaman terbanyak adalah saat saya MPP selama menganggur 6 bulan.

Apakah saya menguasai isinya? Tidak. Banyak hal yang saya tidak mengerti. Saya hanya mengetahui garis besar apa yang ada didalam Injil, Bahkan maksud dari penebusan belum saya mengerti. Yang terang kerinduan/keinginan untuk mengerti bertambah besar.

Nampaknya baca Injil itu  bisa menyebabkan kecanduan. Pernah saya terdorong untuk bertanya/berdiskusi dengan sesama umat Katolik tetapi hasilnya adalah kami sama-sama pandai atau sama sama tidak mengerti. Karena penasaran akhirnya saya memutuskan untuk kursus/sekolah, dan langsung, 7 hari setelah pensiun saya telah duduk di kelas Sekolah Evangelisasi Pribadi Surabaya.

Disana saya menemukan yang akhirnya saya inginkan yaitu mengerti  Injil. Saya sekolah selama 3 tahun. Masuk kuliah seminggu sekali, setahun ada 37 pertemuan, setiap masuk diberi PR untuk 7 hari.Tugasnya adalah diminta membaca (tak sampai satu halaman) Injil, tetapi disuruh merenungkannya. Sebelum membaca diminta berdoa dulu, dan saat membaca adalah seperti dalam keadaan berdoa, jadi harus sopan, pakai baju. Jadi saya menjadi tahu  kesalahan saya dulu waktu membaca sendiri yaitu antara lain  adalah membacanya terlalu banyak dan tanpa merenungkannya, tidak berdoa dulu, dan membaca sambil tiduran serta tidak berpakaian sopan – hanya pakai singlet.

PR  ada yang memeriksa, jadi agar tidak malu PR tersebut selalu saya kerjakan dan berusaha dapat komentar yang baik. Materi PR dan  pelajaran sudah diolah, sehingga hasilnya adalah  mengerti hubungan dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu, kebenaran kebenaran pokok Injil yang akhirnya adalah penebusan oleh Tuhan Yesus  itu sendiri.

Makanya dulu saya tidak segera mengerti penebusan karena harus sekolah dulu.  Sekolah tidak penuh selama setahun. Pada saat libur murid disuruh meneruskan  membaca dan merenungkan Injil setiap hari, yang dibaca adalah sesuai Kalender Liturgi yang dikeluarkan oleh gereja.

Begitu  mulai mengerjakan PR dan merenungkan ayat Injil, maka mulailah firman Tuhan berhadapan dengan keadaan diri saya yang pada umumnya saling berlawanan. Hal ini menyebabkan adanya pergumulan-pergumulan yang mempengaruhi keadaan saya, berupa perasaan lesu, marah tanpa tahu
sebabnya, sebentar perasaan normal tapi tiba tiba malas, sedih. Kejelekan saya berusaha membela diri, tetapi selalu kalah oleh firman Tuhan.

Berganti yang direnungkan berganti masalah yang mengakibatkan pergumulan. Inilah yang disebut  “diubah”, ada yang menyebut “dimurnikan”, ”dibentuk”. Kekalahan terus menerus kejelekan saya oleh firman Tuhan menyebabkan rasa seperti tsb diatas, tetapi anehnya saya makin ingin mengetahui lebih banyak.

Pada saat puncak puncaknya rasa nggak enak (saya pernah menyebutnya sebagai rasa malas hidup) akibat pergumulan yang saya alami yaitu kira-kira akhir tahun kedua waktu sekolah, saya berniat pergi ke rumah paman saya. Saya berangkat dengan perasaan tadi, tapi di tengah perjalanan rasa nggak enak tadi tiba-tiba hilang – seperti dibebaskan dari beban – berganti dengan rasa suka cita.

Saya ingat  waktu itu saya berkata dalam hati: Kok tiba tiba saya merasa senang ya? Akan ada apa? Ternyata paman saya meminjami saya buku yang berisi Amanat Tuhan Yesus berjudul Hidup Sejati Dalam Allah yang disampaikan melalui Vassula Ryden seorang ibu rumah tangga penganut Kristen Yunani Orthodoks . Buku inilah  yang nanti  membimbing saya lebih lanjut selain Injil yang selalu saya baca dan renungkan yang akan menjadi bahan  pokok kesaksian saya.

(Bersambung ke bagian berikutnya: Berpuasa.)