1-Kehilangan Arah Hidup

kompasSemasa kecil, di kota Malang, saya dididik dalam keluarga Katolik yang lumayan taat, dengan disiplin yang ketat. Semua kegiatan keagamaan diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Mengikuti Misa Kudus hari Minggu, hari biasa dan Jumat pertama; Ibadat Pujian Sabtu sore; mengaku dosa seminggu sekali; berpantang dan puasa pada masa Paskah; doa bangun tidur; doa sebelum dan sesudah makan; doa malam bersama anggota keluarga; kegiatan komunitas-doa bersama dan lainnya; misa  misa dalam masa Natal dan Paskah; mohon misa kudus pada saat saat khusus:  saat ujian sekolah, bagi arwah yang meninggal,  syukuran; adalah hal hal yang biasa dilakukan.

Orang tua saya adalah guru pada sekolah Katolik, sedang kami anak anaknya- semuanya – mulai dari TK sampai SMA disekolahkan di sekolah Katolik . Dengan kondisi demikian kegiatan sehari hari kami hanya berkisar antara rumah, sekolah, dan gereja. Demikian pula yang saya jalani sampai selepas SMA yaitu saat saya mulai kuliah dan  akhirnya bekerja di Surabaya.

Di Surabaya saya hidup dalam kondisi yang sama sekali berbeda. Lepas dari kehadiran dan pengawasan orang tua, menjadikan saya bebas melihat dunia luar yang mengikis sedikit demi sedikit kegiatan rohani semasa masih dalam bimbingan
orang tua.  Sehingga akhirnya pada umur 45 tahun kegiatan rohani hanya tinggal sebatas mengikuti misa pada hari Minggu dan hari besar umat Katolik saja, itupun hanya sebagai kewajiban dan kebiasan saja tanpa adanya tambahan pengetahuan keagamaan bahkan mungkin pengetahuan yang dulu ada malah berkurang karena lupa terma kan waktu. Waktu yang ada hampir semuanya habis untuk kegiatan duniawi termasuk bermalas-malasan.

Pada suatu saat, saya merasakan kejenuhan, Saya mendapati bahwa ternyata hati saya       kosong, merasa mulai tua dan mulai berpikir bahwa saya akhirnya akan mati menghadap Tuhan. Apakah saya telah siap menghadap? Rasanya tidak. Saya tidak tahu yang harus saya lakukan untuk mempersiapkan diri saya.

Ke gereja? Masih terus saya lakukan, meskipun hanya pada hari Minggu saja, tetapi ke gereja dari dulu sampai sekarang saya tetap saja.Tetap tidak mengerti apa yang terjadi didalam misa. Kotbah pastor dari dulu rasanya tetap tidak bisa jelas bagi saya.

Lebih malang lagi: saya telah sangat sering mendengar Yesus penebus dunia. Bagaimana kok disebut penebus, saya ternyata juga tak mengerti. Wah gawat. Saya menjadi takut nanti keburu mati.

Nggak tahu kenapa, karena saya ternyata dari dulu nggak ngerti apa-apa, maka langkah yang saya ambil adalah: agar mengerti saya harus belajar, untuk belajar saya punya Kitab Suci yang hampir tidak pernah kebaca, karena begitu mulai membacanya, rasa kantuk pasti muncul apalagi membaca sambil tiduran (yang merupakan kebiasaan saya yaitu: belajar/baca sambil tiduran).

Rupanya saya telah lupa hidup ini untuk apa.

(Bersambung ke bagian berikutnya: Membaca Kitab Suci dan Sekolah Evangelisasi Pribadi.)