7-Jangan Mencoba Menjadi Ini atau Itu

memikul-salibPada saat saya mengikuti kelas Ajaran Gereja th 2007, yang merupakan kelas terakhir yaitu pada tahun ke-4 dari SEP Surabaya, sekolah mengeluarkan pengumuman bahwa awal th 2008 akan diadakan Trainer’s Course. Barang siapa yang telah selesai mengikuti SEP ingin menjadi Trainer diperkenankan untuk mendaftarkan diri. Saya berkeinginan untuk mendaftarkan diri karena dalam pikiran saya hal itu adalah ideal. Tetapi saya tahu bahwa saya tidak pandai mengungkapkan sesuatu dan mudah panik serta emosional. Jadi tidak cocok untuk menjadi trainer.

Selain itu saya punya masalah lain yaitu saya telah 4 th meninggalkan rumah seminggu sekali untuk mengikuti SEP, padahal saya sebenarnya harus bekerja di rumah. Biaya kursus juga menjadi masalah. Saya memutuskan untuk tidak mendaftarkan diri kecuali apabila ada biaya serta ada hal lain yang mendorong saya untuk mengikuti TC tersebut, misalnya disuruh Kepala Sekolah untuk mendaftar atau hal lainnya. Beberapa saat sebelum pendaftaran dimulai saya secara tak terduga mendapatkan uang yang cukup untuk biaya kursus dimana secara normal uang tersebut tak bisa saya peroleh.

Jadi satu masalah terselesaikan, yaitu saya tidak perlu meminta uang kepada istri saya. Tanggal pendaftaran telah lewat tanpa terjadi apa-apa, sehingga saya merasa bebas tak ada yang harus dikerjakan lagi. Tetapi lewat 2 hari ada SMS masuk yang berasal dari ketua kelas yang mengatakan bahwa bagi teman teman sekelas yang ingin ikut kursus masih bisa mendaftarkan diri, karena waktu pendaftaran diperpanjang.

Saya yang telah sibuk mengerjakan sesuatu yang lain menjadi bimbang. Sebelum tidur saya memikirkan hal itu lagi dan kemudian memutuskan tidak ikut karena saya tidak secara khusus disuruh ikut oleh Kepala Sekolah. Memangnya siapa saya ini kok minta khusus disuruh mendaftar oleh Kepala Sekolah? Tapi ya itulah persyaratan saya.

Kemudian saya pergi tidur, tapi kemudian terbangun  karena saya bermimpi. Didalam mimpi saya bertemu seseorang yang mengajak saya pergi, yang akhirnya kami sampai di ruangan yang saya pikir adalah semacam kelas dimana di sana ada pegawai sekretariat SEP dan nggak tahu kenapa saya menghitung orang yang ada di dalam kelas ada 22 orang, tidak termasuk saya dan pegawai sekretariat.

Saya kemudian terbangun dengan hati yang berkobar-kobar karena saya pikir saya disuruh mengikuti kursus dan tentu akan menjadi trainer (guru di SEP). Segera saya menghubungi pegawai sekretariat yang ada di dalam mimpi, untuk mendaftarkan diri.

Pada kesempatan lain, secara iseng saya menanyakan kepadanya berapa orang yang telah mendaftarkan diri. Setelah mengingat ingat dia mengatakan bahwa pada saat saya mendaftar, yang telah mendaftarkan diri ada 22 orang. Saya terkejut, kok cocok dengan yang ada didalam mimpi saya?

Pada waktu yang lain saya bertemu dengan ketua kelas yaitu orang yang mengirim SMS kepada saya. Dia, dengan berbagai pertimbangan akhirnya juga mendaftarkan diri. Saya menceriterakan apa yang saya alami, kenapa saya kok akhirnya memutuskan ikut TC yaitu karena saya bermimpi meskipun sebenarnya persyaratan kurang satu yaitu harus disuruh ikut oleh Kepala Sekolah.

Kemudian dia mengatakan (entah bergurau entah tidak) : Lho bapak disuruh bu Judy ikut. Saya lega sekali dan dengan bersemangat belajar serta mempersiapkan segala sesuatu.

Sepanjang hidup saya tak pernah saya belajar sekeras itu. Akhirnya segalanya saya lalui, dimana yang paling akhir adalah ujian. Menurut  keterangan sekolah, pengumuman hasil ujian akan memakan waktu cukup lama antara 3 bulan sampai setahun . Jadi saya harus menunggu kelulusan saya sampai setahun. Kemudian saya menikmati istirahat setelah membanting tulang kira kira 2 bulan.

Pada suatu siang ketika saya sedang tidur tiduran tiba tiba seorang kenalan lama, menelpon saya dia menawarkan  apakah saya mau bekerja pada proyek yang tender nya dimenangkannya, dimana proyek akan makan waktu 1 th. Tanpa pikir panjang saya menjawab mau.Wah tepat sekali pikir saya, waktu setahun kan pas dengan pengumuman hasil ujian? Saya pikir kiranya Tuhan telah mengatur segala sesuatu bagi saya.

Singkatnya, saya kemudian mulai bekerja. Pada saat saya telah bekerja  sebulan, yaitu kira kira sebulan lewat seminggu setelah ujian Trainer, saya di SMS teman sekelas SEP, yang mengabarkan bahwa surat hasil ujian saya ada padanya. Dia dititipi oleh sekolah untuk disampaikan kepada saya. Saya minta dia membuka surat itu dan mengabarkan kepada saya hasil ujian saya.

Hasilnya adalah saya dinyatakan tidak lulus. Saya kemudian juga tahu bahwa nilai hasil ujian saya juga sangat jelek. Tidak lulusnya adalah tidak menjadi masalah bagi saya, tetapi malunya itu, karena saya telah terlanjur berceritera bermacam-macam kejadian kepada teman saya terutama tentang mimpi saya, yang seolah olah saya sudah disapa Tuhan.

Pada awalnya masalah tersebut tidak begitu mengganggu saya karena saya sibuk dan mengalami masalah dengan pekerjaan saya.

Secara singkat ada ketidaksesuaian cara bekerja antara saya (ex pegawai BUMN yang bekerja dengan organisasi dan pekerjaan yang spesifik) dengan pemberi kerja saya (yang swasta dimana meskipun ada organisasi – tetapi pada kenyataannya karyawan disuruh bekerja serabutan); ditambah dengan komunikasi yang tidak berjalan baik sehingga pekerjaan yang saya lakukan dan dia lakukan selalu tidak ketemu. Akhirnya karena hal itu membuat saya dan dia nggak enak, maka dengan persetujuan bersama saya setuju untuk mengundurkan diri. Surat pengunduran diri segera saya kirim, tetapi pimpinan saya yang berada di lapangan mempertahankan saya dan meminta saya mengurungkan pengunduran diri saya. Saya meminta dia untuk berbicara dengan yang mempekerjakan saya tetapi dia menolak karena setelah bekerja dengan yang mempekerjakan saya beberapa waktu, dia merasa tidak senang dengannya.

Waktu keluar saya tinggal kira kira 10 hari, dimana itu adalah waktu yang sangat menyiksa saya karena saya tidak bisa berbuat apa-apa, di satu pihak saya mau mengundurkan diri, di pihak lain saya ditahan oleh pimpinan lapangan yang bukan orang yang memberi pekerjaan kepada saya selain saya juga memerlukan tambahan penghasilan bagi keluarga saya.

Saya berdoa terus agar saya bisa dengan tegas menentukan keputusan tanpa mengecewakan siapa siapa. Sampai sampai ketika saya sedang pusing-pusingnya, saya bisa berdoa dengan mengangkat tangan sebagai tanda bahwa saya menyerah kepada Tuhan, yang sebelumnya belum bisa / belum pernah saya lakukan.

Akhirnya, per 1 Juli 2008, tanpa pamit lagi, saya pergi pulang kerumah dengan ringan seolah olah terbebas dari mimpi buruk (yang satu), tapi pelan- pelan pelan muncullah masalah lain yaitu rasa malu karena tidak lulus TC, sampai setiap kali teringat masalah itu, rasa malu muncul dengan  pokok kekecewaan: kenapa saya harus mengalami mimpi?

Seandainya saya tidak bermimpi saya tidak mendaftar, sehingga saya tidak mengalami rasa malu. Padahal biasanya saya agak tidak gampang malu/ tidak tahu malu ( ha-ha-ha). Demikian malunya saya sampai saya tak mau lagi muncul di sekolah.

Saya berdoa kepada Tuhan mohon penjelasan tentang hal ini tetapi tak kunjung ada jawaban, sampai sampai saya mengira tak akan pernah terjawab  (biasanya pertanyaan selalu dijawabNya). Saya juga, meskipun malu, berceritera dan bertanya juga kepada teman-teman dekat saya. Mereka berusaha menghibur saya dengan mengatakan bermacam-macam dugaan : Oh bapak disuruh belajar lagi, agar menguasai dengan lebih baik bahan kuliah dulu; atau di SEP sudah ada banyak orang yang bekerja, bapak tidak perlu ada disana; atau kalau bapak tidak ikut TC bapak akan kepikiran dan selalu ingin ikut, padahal bapak tidak cocok untuk pekerjaan itu; atau kalau bapak lulus bapak akan mengacau keadaan disana karena bapak terlalu berterus terang -to the point dlsb.

Sampai kira kira satu tahun kemudian.Saya dituntun kepada ayat Sir 4:21 :

“Sebab ada malu yang mendatangkan dosa,tetapi juga ada malu yang merupakan kemuliaan dan kasih karunia.”

Saya kira malu saya tidak mendatangkan dosa jadi saya memilih malu yang satunya – yang merupakan kemuliaan dan kasih karunia. Saya sangat  sangat terhibur dengan penjelasan ini.

Penjelasan lebih lanjut yang juga bisa saya terima saya peroleh dari Amanat Tuhan Yesus di dalam kitab Hidup Sejati dalam Allah sbb.:

“Jangan mencoba menjadi ini atau itu. Tetaplah kecil, supaya kalian dapat merayap masuk kekedalaman lubuk Hati KudusKu.” (BC 34)

Saya telah ingin menjadi trainer, demi kemegahan diri (sesuatu yang menurut saya ideal)  meskipun mengajukan berbagai kondisi untuk mengikuti kursus.

Selanjutnya untuk masalah yang berkaitan dengan pekerjaan proyek yang saya ikuti,  Bunda Maria menasehati :

“Jangan lihat kekiri atau kekananmu. Tuhan mengingin kan penyerahan dirimu yang sepenuhnya, supaya engkau dapat dijadikan-Nya ciptaan yang sempurna, yang memantulkan citra Ilahi-Nya.” (BC-Vass 38).

Hal ini seperti peringatan didalam Injil Luk 9:62 yang mengatakan

“Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh kebelakang,tidak layak untuk Kerajaan Allah”.

Di dalam Amanatnya Tuhan Yesus meminta  untuk berdoa 3 doa harian yang antara lain adalah Novena penyerahan diri kepada Hati Kudus Yesus, dimana setiap hari saya telah mendoakannya, jadi saya tak boleh menoleh ke kiri atau ke kanan lagi.

Pekerjaan proyek yang telah saya ikuti adalah sebagai peringatan atau contoh yang tak akan pernah saya lupakan. Akhirnya saya mengerti dan tidak bertanya meminta penjelasan lagi, tapi tetap tidak muncul lagi disekolah karena tetap merasa malu.

(Bersambung ke bagian berikutnya: Meditasi.)