9-Ekaristi

ekaristi“Bersandarlah pada-Ku, dan Aku akan membimbing kalian ke Tabernakel-Ku, tempat Aku menunggu kalian siang dan malam. Aku menyerahkan Diri-Ku kepadamu setiap hari. Mari datanglah dan terimalah Aku dalam kekudusan dan kemurnian. Jangan melukai Hati-Ku. Hendaknya kalian murni dan suci pada saat kalian menerima Aku. Hendaknya kalian berkonsentrasi dan kenalilah Kehadiran-Ku yang Hidup dalam Hosti Putih kecil itu. “ (BC Vass 33, 1.6.89)

“Setiap kali engkau datang untuk menerima Aku, Hati Kudus-Ku meloncat kegirangan. Aku telah membuat Diri-Ku begitu mungil dalam Hosti putih kecil itu. Dengan menyambut Aku, engkau menerima Aku, dan dengan menerima Aku dengan cara ini, engkau mengakui Kebenaran. Maka Aku dan engkau adalah satu. Engkau dalam persekutuan dengan Aku.” (BC Vass 37, 29.9.89)

“Aku ingin kalian menerima Ekaristi Kudus sesering mungkin.” (BC Vass 41, 9.2.90)

Demikianlah  beberapa Amanat Tuhan Yesus mengenai Ekaristi, yang saya baca dalam bulan Maret hingga Mei 2009. Semula saya tidak “nyangkut” pada pesan tersebut, mungkin karena Ekaristi telah “biasa” bagi saya. Tetapi pada suatu saat pesan tersebut muncul kembali dan menarik perhatian saya. Wah saya diminta untuk mendalami mengenai Ekaristi-pikir saya. Sampai tahap ini saya masih biasa –biasa dalam arti kebiasaan pergi ke-gereja dan sikap dalam mengikuti Ekaristi belum berubah.

Sebelumnya, yaitu dalam bulan Januari 2009, dalam acara Santapan Rohani untuk para lansia, dimana saya menjadi salah satu pengurusnya. Romo Yoseph, yang membina dalam acara tersebut melontarkan pertanyaan kepada semua yang hadir. Apa yang akan bapak ibu lakukan apabila besok adalah hari terakhir bagi bapak dan ibu? (maksudnya besok akan dipanggil Tuhan.) . Semuanya kebingungan termasuk saya, tetapi semua harus memberikan pendapatnya. Ternyata jawabannya ada bermacam-macam. Semuanya  mencoba menjawab sebaik mungkin, seserius mungkin berusaha agar tidak malu. Jawaban mereka sbb.:

  • “Besok saya akan  berdoa sepanjang hari.”
  • “Saya akan mengaku dosa, dan terus berdoa.”
  • “Saya akan berbuat seperti kebiasaan yang telah saya lakukan.”
  • “Saya akan mengumpulkan anak- anak saya dan memberikan pesan-pesan terakhir.”

Yang menjawab dalam gurauan seperti misalnya: ”Saya akan pergi ke mall sepanjang hari”; atau “Saya akan membelanjakan uang saya untuk makan enak, sesuatu yang belum pernah saya makan“ ternyata tidak ada. Mungkin semua pada ketakutan karena sudah benar benar tua.

Pada umumnya jawabannya adalah bertobat dan berdoa; tetapi Romo selalu memberi komentar: “Hanya bapak/ibu lakukan besok saja?” Yang menjawab ”Saya akan berbuat seperti kebiasaan yang telah saya lakukan” hanya seorang. Kelihatannya dia sudah pernah mendengar pertanyaan seperti ini dan sudah benar-benar siap setiap saat dipanggil Tuhan. Bahkan peti mati sudah dipersiapkannya – demikian penjelasannya.

Akhirnya Romo menasehati:  “Kita tidak tahu kapan dipanggil Tuhan. Tuhan bisa memanggil kita setiap saat, dan Tuhan sudah mengingatkan kita untuk berjaga-jaga sesuai Injil  Mat 24:44, Mat 25: 1-13, Mark 13:35. Oleh karena itu kita harus siap setiap saat untuk dipanggil Tuhan. Jadi kita harus mempunyai kegiatan sehari-hari yang bisa menjadikan kita siap setiap saat.” Selanjutnya Romo memberi contoh: ”Kegiatan saya sehari-hari adalah : melakukan meditasi pagi; menyelenggarakan Misa Kudus;  membaca Injil atau bacaan rohani; menerima umat;  berdoa Rosario; malam hari mengikuti acara  umat di Lingkungan atau Wilayah. Sebelum tidur memeriksa batin/meditasi. Kemudian mengaku dosa sebulan sekali.”

Saya baru kali ini mendengar uraian mengenai berjaga-jaga. Biasanya dalam homili hanya diperintahkan untuk berjaga-jaga, titik.Tak ada penjelasan harus bagaimana atau berbuat apa. Jadi saya benar- benar surprise dan segera melakukan kegiatan dalam rangka berjaga-jaga. Kegiatan doa yang telah saya lakukan saya tambah dengan mengikuti Misa kudus setiap hari, doa Koronka, doa anjuran Tuhan Yesus melalui St. Bridget. Dorongan dari Romo untuk berjaga- jaga membuat saya melakukannya. Ini adalah dorongan pertama.

Pada bulan Februari 2009 Wilayah saya mengadakan Rekoleksi dimana materinya kebetulan mengenai Ekaristi dan Pengakuan Dosa dimana saya sebagai seksi Pewartaan juga mengikutinya. Di akhir acara, ketua Wilayah menyampaikan berita bahwa dia diberi oleh seseorang buku kecil mengenai Ekaristi. Buku tersebut akan diberikan kepada ketua Lingkungan masing- masing untuk dibagikan kepada umat. Benar saja, pada Perayaan Paskah di Wilayah yang diadakan pada akhir April 2009, semua yang hadir diberi pembagian buku tersebut. Bukunya adalah Rahasia Misa Suci dan Sakramen Tobat oleh Catalina Rivas.

Buku kecil ini semula merana – tidak segera terbaca. Baru pada pertengahan Mei 2009 saya membacanya. Ternyata isinya tidak biasa, karena  berupa kesaksian atas penglihatan apa yang terjadi di dalam Misa Suci. Saya benar benar sangat terkesan oleh apa yang ditunjukkan oleh Tuhan/ Bunda Maria dalam kesaksian itu. Saya menjadi tidak ingin mengecewakan malaikat pelindung saya karena sikap saya dahulu saat mengikuti Misa Kudus hanya sebagai suatu kewajiban atau rutinitas saja. Berikut ini cuplikan apa yang tertulis dalam buku tersebut :

  • “……Gereja menjadi penuh oleh orang-orang muda dan tampan yang memakai pakaian putih. Orang–orang baru itu menuju ke gang utama dan mendekati altar. Bunda Maria berkata, “Lihatlah ! Itu adalah para malaikat pelindung dari semua orang yang hadir disini …” (halaman 34,35)
  • “Inilah malaikat  pelindung orang yang mempersembahkan Misa Suci dengan banyak ujud. Orang orang yang sadar apa artinya kurban Misa Suci. Malaikatnya membawakan sesuatu untuk dipersembahkan kepada Tuhan. (halaman 35-36)
  • “Ya, persembahkanlah semuanya pada saat ini kepada Tuhan, persembahkanlah kekhawatiranmu, penderitaanmu, permintaanmu! …, sebab itu persembahkanlah dan mintalah sebanyak–banyaknya …” (halaman 36)
  • Di bagian belakang, berjalan para malaikat yang kelihatannya sedih hati. Tangan mereka terkatup seperti berdoa dan mata mereka seperti melihat ke bawah. “ Inilah para malaikat pelindung dari orang-orang yang hadir disini,tetapi seperti asal hadir saja.Mereka datang ke gereja seperti terpaksa, seperti “wajib saja” tanpa kerinduan apa–apa, sekedar bisa ambil bagian dalam Misa Suci. Para Malaikat itu sungguh bersedih, sebab mereka hanya dapat membawa ke altar doa pribadi mereka (doa malaikat). ( halaman 37)

Buku ini adalah dorongan kedua bagi saya, di mana dorongan ini hampir bersamaan waktunya dengan perintah kepada saya untuk  menyambut Dia dengan mengikuti Misa Kudus. Tuhan mendidik dan menunjukkan Rahasia Misa Kudusnya kepada saya sehingga sikap saya dalam mengikuti Misa Suci menjadi berubah- bukan lagi sebagai kewajiban.

Pada akhir bulan Mei 2009, adalah teman saya, sesuai perjanjian, berkunjung ke rumah saya untuk suatu keperluan. Tetapi tanpa disangka-sangka dia membawa untuk dipinjamkan kepada saya buku The Lamb’s Supper karangan Scott Hahn. Bukunyaberisi tentang kegembiraan Scott Hahn yang setelah bertahun tahun menyelidiki kitab Wahyu ternyata dia menemukan apa yang tertulis dalam Kitab Wahyu telah dilakukan di gereja Katolik berupa Misa Suci sehingga isi Kitab Wahyu menjadi jelas baginya.

Kesimpulan singkat darinya adalah Misa Suci adalah Surga di dunia. Melalui kitab ini apa yang perlu saya ketahui menjadi semakin lengkap, sehingga saya tidak ada alasan untuk mengikuti Misa Suci hanya sebagai suatu kewajiban atau rutinitas. Ini adalah dorongan ketiga bagi saya yang membuat saya yakin bahwa Tuhan Yesus  khusus mendidik saya mengenai Misa Suci dengan munculnya banyak “kebetulan” pada saya dengan menyediakan bahan dan kejadian yang perlu bagi saya.

Tuhan memperlengkapi kita dengan segala sesuatu yang kita butuhkan.

(Bersambung ke bagian berikunya: Apa Tugasku?)