3-Berpuasa

berpuasaSaya segera mulai membaca amanat Tuhan Yesus dengan sangat antusias. Betapa tidak? Tuhan berbicara dengan mendikte langsung, jadi  saya pikir pesanNya asli. Bentuk amanatnya adalah pembicaraan dengan Vassula, jadi sangat hidup. Apalagi bagi siapa saja yang membaca diminta oleh Tuhan Yesus untuk mengganti nama Vassula dengan nama dirinya sendiri, jadi pembicaraan juga berlaku bagi siapa saja yang membacanya. Berarti saat membaca saya berkomunikasi langsung dengan Tuhan Yesus.

Karena terlalu antusias dalam membacanya, saya mengulangi kesalahan yang sama seperti waktu membaca Injil pertama kali sehingga pengajaran banyak yang lewat, tidak nyantol. Apalagi banyak hal yang baru bagi saya misalnya istilah mempelai Tuhan Yesus dan bahasanya yang penuh kasih dan sabar menjadikan saya, manusia yang telah lama  berdosa, menjadi tidak sabar.

Tetapi yang terjadi adalah bahwa saya mulai membaca ulang untuk yang kedua kalinya dengan  lebih pelahan, sedikit demi sedikit, sambil merenungkannya. Kemudian, karena mulai bisa ”menikmatinya”, saya membaca untuk ketiga kalinya – seperti biasa dilakukan orang bila membaca Kitab Suci: meskipun telah pernah membaca membacanya lagi.

Kesulitan mulai muncul saat saya ingin membaca jilid selanjutnya, ternyata paman saya tak memilikinya. Saya menelpon ke sana kemari pada toko/penjualnya dahulu ternyata mereka sudah tak memilikinya. Jawabannya : Oh dulu banyak, tapi sekarang sudah habis. Oh sudah terlalu lama, coba telpon ke pusatnya. Saya menelpon ke Malang, Kediri, Jogya sampai ke Jakarta tidak menemukanya.

Saya pikir, kalau dulu banyak, sekarang habis, berarti buku tersebut ada di lemarinya orang-orang yang pernah membelinya dan orangnya tentunya adalah orang yang kehidupan rohaninya sudah baik/aktif pada tahun 90-an. Jadi saya menanyai teman teman yang sudah tua..Dan benar saja, saya kemudian mengetahui paling tidak 5 orang yang mempunyai bukunya atau pernah membacanya, tetapi mereka paling banyak punya hanya sampai jilid 5, padahal saya pernah mendengar info bahwa 2 tahun lalu jumlah jilidnya mencapai sepuluh.

Jadi saya membaca sampai jilid 5 dengan meminjam kepada mereka. Selanjutnya mendapatkan buku berikutnya menjadi masalah lagi, sampai saya demikian ribut sehingga anak saya mencari data lewat internet yang ternyata bisa menemukan alamat baru distributornya. Saya segera mendapatkan buku sampai jilid 8, juga mendapat info jilid 9 juga ada tetapi berbahasa Inggris.

Suatu hari pada tahun 2007, seperti biasa saya membaca buku amanat Tuhan Yesus tersebut. Saya sampai pada suatu lembaran dimana Tuhan meminta saya untuk berpuasa 2 kali dalam seminggu. Saya merasa disentuh, karena saya boleh dikata tidak pernah berpuasa seperti anjuran gereja yaitu pada masa pra-Paskah. Usaha saya untuk berpantang dan berpuasa sesuai perintah gereja selalu tidak bisa saya jalani dengan penuh dan baik. Karena saya merasa “terlalu ringan” malah menjadi tidak menarik. Saya juga seringkali lupa, pagi hari puasa  tapi siangnya lupa kalau saat itu saya sedang puasa, sehingga nggak sengaja saya memakan sesuatu. Memang barangkali masih belum niat.

Nah, waktu itu saya mulai menanggapi. Saya mulai berpikir – saya akan berpuasa, tapi mulai kapan? Saya jawab sendiri: Puasa saja memasalahkan kapan mulainya. Mau sekarang, besok, lusa atau kapanpun bisa langsung mulai. Saya mulai menentukan harinya. Semula saya memilih hari Rabu dan Jumat, tetapi kemudian saya pikir Rabu dan Jumat hanya berselisih satu hari; sedang Jumat dan Rabu berselisih 4 hari jadi berat pada hari Kamis. Jadi saya mengubahnya menjadi hari Selasa dan Jumat.

Kemudian muncul masalah jam berapa mulai, jam berapa makan,  jam berapa berakhir? Saya tentukan berdasar logika mulai jam 12 malam, makan jam 12 siang dengan waktu makan 1 jam, dan berakhir jam 12 malam. Segera saya memulainya dengan lebih dahulu merencanakan yang enak-enak untuk saya makan dan minum nanti jam 12 siang.

Saat saya melakukannya untuk yang ketiga kalinya, saya seperti biasa membaca amanat Tuhan lagi yaitu lanjutannya dan sempat berceritera ke isteri saya bahwa saat berpuasa pikiran lebih terang, membaca lebih cepat mengerti. Saya melanjutkan membaca lagi dan saya terkejut karena apa? Karena kemudian bacaannya mengatakan :

”Izinkanlah Aku membentuk engkau setiap hari Selasa dan Jumat, menjadi pantulan diriKu, dengan memberi derita sengsara-Ku kepadamu.”

Kok harinya bisa persis seperti apa yang saya pilih? Kok harinya tidak hari apalah, entah Selasa – Sabtu atau Jumat – Senin. Saya merasa bahwa saya mulai disapa, dan saya percaya hal itu, apalagi saya sering diajar bahwa : Tidak ada sesuatu yang kebetulan. Jadi saya melakukan puasa dengan lebih bersemangat, cuma ada rasa sedikit takut karena akan diberi derita.

Pada suatu ketika saat sedang puasa, seperti biasa saya meneruskan membaca. Kemudian terbaca ketentuan selanjutnya :

“Lakukanlah silih. Berpuasalah dengan hanya makan hanya roti dan minum air.”

Kemudian saya menawar: “Wah jangan dulu, saya sudah terlanjur menyuruh memasak sesuatu untuk saya makan nanti jam 12 siang. Jadi yang ini, roti dan air   mulai hari Selasa depan saja”. Selanjutnya saya hanya makan nasi putih (pengganti roti tawar) dan minum air putih.

Sampai sekarang saya sudah menjalaninya selama 1,5 tahun. Puasa memang tidak enak, menderita menjadi lapar. Tapi memang itulah yang harus dijalani sebagai silih untuk jiwa orang lain agar bertobat. Demikian yang diajarkan dan diminta oleh Tuhan Yesus, tapi dibanding dengan penderitaanNya hal itu sama sekali bukan apa-apa.

Ada peristiwa lain yang perlu saya sampaikan. Pada suatu saat Pastor paroki berceritera bahwa di negeri Yahudi, pergantian hari tidak dimulai jam 12 malam tetapi sore hari. Mengetahui hal tersebut kemudian saya mengganti waktu puasa saya mulai jam 17.30 hari Senin dan Kamis berakhir pada jam 17.30 hari Selasa dan Jumat. Sedang waktu makannya adalah pagi hari antara jam 6-7.

Sampai saat ini berpuasa seperti tersebut diatas tidak mengganggu atau belum mengganggu kesehatan saya. Rasanya saya akan terus berpuasa selama saya kuat karena saya pikir hanya hal itu yang sudah bisa saya lakukan sebagai silih.

(Bersambung ke bagian berikutnya: Berkorban.)