4-Berkorban

Ada seorang janda yang tinggal di Lingkungan saya. Dia akan menyelenggarakan Misa Kudus di rumahnya guna memperingati 1 tahun meninggalnya suaminya. Saya bersedia ketika diminta olehnya untuk mengiringi dengan musik, lagu yang dinyanyikan di dalam Misa tersebut, dengan syarat besok pagi berlatih dulu bersama anaknya yang akan bernyanyi di dalam acara yang diselenggarakan sore harinya.

Saya belum banyak mengenal lagu rohani sehingga perlu berlatih dahulu. Saat waktu berlatih tiba, ternyata putranya tidak datang, tetapi dia menyuruh seseorang untuk mengirim daftar lagu yang akan dimainkan dan berpesan latihannya nanti sore saja pukul 18.00 dirumahnya tempat acara diselenggarakan. Saya kecewa dan mulai stress karena dari 8 lagu yang ada, saya  hanya bisa 3 lagu saja. Stress bertambah saat saya menelpon teman yang saya tahu pernah menyanyikan lagu yang saya belum bisa tersebut, tetapi kemudian menyatakan bahwa dia sudah lupa.

Saya merasa pasti bahwa tidak mungkin nanti latihan jam 18.00 di rumahnya karena putranya pasti sibuk mengatur segala sesuatu bagi persiapan Misa. Sambil kesal saya sudah akan mengambil keputusan untuk tidak sanggup memainkan musik karena syarat untuk berlatih pagi tadi tidak terpenuhi.

Tetapi kemudian saya mencoba membongkar perbendaharaan cassette dan CD saya  dan mendapatkan 2 lagu lagi yang bisa saya pelajari sendiri. Sekarang tinggal 3 lagu yang belum saya ketahui. Setelah sepanjang hari sibuk berlatih, akhirnya saya tetap berangkat tepat waktu dan mendapati putranya memang benar-benar sibuk dan tak   bisa berlatih, akan tetapi di sana ada saudara-saudaranya yang bisa menunjukkan lagu yang saya belum bisa dan kami segera berlatih bersama dan semuanya menjadi siap tepat waktu yaitu pukul 19.00, saat Misa dimulai.

Saya memainkan keyboard harus duduk di tikar karena tidak ada kursi; sedang posisi altar tidak memungkinkan saya untuk bersandar pada almari ataupun tembok karena saya harus duduk menghadap hadap altar. Setelah misa dimulai barulah masalah muncul, bukan di dalam memainkan musiknya, tetapi pada punggung saya yang terasa sakit karena membungkuk mulai saat latihan jam 18.00. Saya kesakitan dan selalu mulat-mulet. Maklum sudah termasuk lansia. Tetapi akhirnya semua penderitaan berakhir dan acara berjalan dengan baik dan lancar.

Besoknya seperti biasa saya melanjutkan membaca Amanat Tuhan Yesus di buku Hidup Sejati Dalam Allah. Segera sesudah membaca beberapa halaman, terbaca pernyataan :

“Tahukah engkau bahwa sakit punggungmu yang kauderita itu menyelamatkan satu jiwa ?”

Saya sangat terkejut saat membacanya dan berpikir kok bisa tahu ya? Rasanya amanat Tuhan dalam buku tersebut hidup, dan bisa menyampaikan sesuatu pada saatnya atau Tuhan  mendidik dan mempersiapkan segala sesuatunya agar muridnya benar-benar menghayati ajaranNya dan sekaligus memotivasi untuk lebih giat mengikuti kelasnya.  Tuhan Yesus benar benar Sang Guru.

Pada suatu  kegiatan doa bersama, dimana ibu janda tersebut juga hadir, saya bersaksi tentang hal ini. Kemudian janda itu  berkomentar dengan gembira .”Jadi suami saya sudah disorga ya?”  Saya kaget dan menjawab dengan bodoh: ”Nggak tahu bu, kitabnya tidak bilang demikian.” Kemudian saya hanya berpikir bahwa saya seharusnya menjawab: ”Oh, pasti.”

Saya, yang dulunya sama sekali tidak mau berkorban, sekarang mulai bisa berkorban.

(Bersambung ke bagian berikutnya: Kembali pada Bunda Maria.)