11-Benarkah Saya Dipilih?

Saya ingin mengajak saudara kembali ke th 2004, ketika saya baru mengikuti Sekolah Evangelisasi Pribadi (SEP).

Ketika itu baru awal kuliah. Seorang guru mengatakan: ”Bukan kebetulan bapak ibu dan saudara sekalian berada di sini. Bapak secara khusus telah dipilih oleh Tuhan Yesus.“ (Lihat Yoh 15:16). Saya menjadi ingat gurauan umat untuk memaksa umat lainnya agar mau menerima tugas atau jabatan tertentu di dalam kegiatan bersama. Mereka mengucapkan kata-kata itu pula, agar orang yang dimaksud tidak berani menolak pilihan. Dasar saya waktu itu boleh dikata adalah orang dunia, baru dalam hal kerohanian alias orang yang masih akan belajar, maka dalam hati saya berkomentar: “Ah guru ini kan maksudnya agar kami senang atau ingin memotivisasi kami murid baru, agar kami kerasan belajar disini.”  Di satu sisi saya tidak percaya, karena saya bukan anak kecil (bahkan kelewat tua karena sudah pensiun); tapi di sisi lain ada  rasa senang atau bangga karena dipilih. Tentu saya punya kelebihan, pikir saya.

Tahun pertama selesai, saya meneruskan ke kelas selanjutnya. Pada awal kuliah tahun kedua, guru yang lain mengajar dan mengatakan kembali hal yang sama: “Bapak, ibu dan saudara sekalian telah bertahan setahun dan sekarang mengikuti kelas ini. Ini membuktikan bahwa bukan kebetulan bapak, ibu dan saudara sekalian berada di sini. Anda semua telah dipanggil dan dipilih oleh Tuhan Yesus.” Saya langsung berkomentar lagi dalam hati: “Lho ini, yang dulu lagi.” Guru kemudian mulai mengajar tetapi kemudian menunjuk kepada ayat dalam Mazmur 107 : 4-9, yang membuat saya terdiam, dan timbul rasa malu dalam hati saya. Saya menjadi percaya bahwa saya dipilih tetapi bukan karena kelebihan saya tetapi oleh karena saya tersesat, berjalan tanpa arah dan akan diselamatkan.

Mazmur itu sendiri mengatakan :

Ada orang-orang yang mengembara di padang belantara, jalan ke kota tempat kediaman orang tidak mereka temukan; mereka lapar dan haus, jiwa mereka lemah lesu di dalam diri mereka. Maka berseru serulah mereka kepada Tuhan dalam kesesakan mereka, dan dilepaskan-Nya mereka dari kecemasan mereka. Dibawa-Nya mereka menempuh jalan lurus, sehingga sampai ke kota tempat kediaman orang. Biarlah mereka bersyukur kepada Tuhan karena kasih setia-Nya, karena perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib terhadap anak-anak manusia, sebab dipuaskanNya jiwa yang dahaga, dan jiwa yang lapar dikenyangkanNya dengan kebaikan.

Bagi saya hal tersebut 100% benar, Tuhan benar-benar ajaib, dan saya benar-benar bersyukur kepada Tuhan Yesus karena kasih setiaNya. Saya mengakui telah tersesat dan dibawa Tuhan kejalan yang lurus sehingga sampai kekota tempat kediaman orang. Saya tak tahu dulu saya menuju kemana … Saya takut bila memikirkannya. Terpujilah Tuhan!

Sekarang, bagaimanakah Tuhan Yesus menggambarkan kasus saya ini di dalam  Amanat-Nya yang disampaikan kepada Vassula di dalam buku Hidup Sejati dalam Allah? Berikut ini adalah cuplikan Sabda-Nya  (BC Vass No:48 22.12.90 ):

“… Maka, meskipun tingkah lakumu begitu mengejutkan dan inderamu tidak peka sehingga engkau tidak mampu melihat Terang, Sang Kerahiman dan Belas Kasih (Tuhan), terperangkap oleh kesengsaraanmu, kerawananmu dan kemalanganmu sehingga Dia datang menolongmu. Tidak, Vassula / Petrus CA, engkau tidak layak mendapat Rahmat-rahmat-Ku apapun juga. Bayangkan, dalam Tangan-Ku ada hamba-hamba yang menghormati Aku, yang hanya menyerukan Nama-Ku dalam kekudusan saja, yang memberkati Aku tanpa henti, yang memuji Trinitas Kudus dengan sepenuh hati. Kendati demikian Hati-Ku yang lembah kasih menangis memanggilmu. Engkau telah menimbun kesedihan demi kesedihan di dalam Hati-Ku, pengkhianatan demi pengkhianatan. Engkau bergumul melawan Aku, hai makhluk kecil dan lemah … tetapi Aku tahu bahwa hatimu tidak terpecah-belah, dan bahwa sekali Aku berhasil menguasai hatimu, maka ia akan menjadi milik-Ku sepenuhnya. Sebagai obyek era, engkau bergulat melawan Aku, tetapi Aku telah menjatuhkan engkau dalam pergulatan ini, dan menyeret dirimu ke dalam debu dan ke dalam padang gurun ini, tempat Aku telah meninggalkan Engkau sendirian. Aku telah melengkapi dirimu dengan malaikat pelindung sejak awal mula eksistensimu agar ia mengawal engkau, menghibur engkau dan membimbing engkau. Tetapi Kebijaksanaan-Ku telah memerintahkan malaikat pelindungmu meninggalkan engkau dan membiarkan engkau menghadapi padang gurun itu sendirian. Aku berkata: ”Engkau harus hidup biarpun dalam keadaan telanjang seperti itu (malailat pelindungku dan seluruh Surga memalingkan muka dari aku). Sebab tidak ada manusia dapat hidup atas kekuatannya sendiri.” Pada saat itu, Setan pasti akan menguasai engkau sepenuhnya dan akan membunuh engkau. Perintah-Ku telah diberikannya kepadanya juga. Aku melarang dia menyentuh dirimu. Lalu karena ketakutan, engkau mengingat Aku dan memandang ke Surga sambil mencari Aku dengan rasa putus asa. Ratap tangismu dan permohonanmu tiba-tiba memecah kesunyian yang amat mencekam di sekitarmu, dan tangisan takutmu mencoba masuk melewati lapisan-lapisan langit hingga sampai ke Telinga Trinitas Kudus …“ Anak-Ku “ begitulah suara Bapa dengan penuh sukacita bergema di seluruh Surga …”

Demikianlah Bapaku menggambarkankan proses tersesatnya aku sampai dengan pertolongan-Nya dengan indah, sangat penuh kasih dan sangat akurat.