10-Apa Tugasku?

tugas pewartaanSekarang tahun 2009, sudah hampir 1 tahun saya selesai mengikuti Sekolah Evangelisasi Pribadi SEP) yang telah saya tempuh selama 4 tahun. Berarti sudah 5 tahun saya membaca dan merenungkan Injil; dan sudah 3 tahun lebih saya mulai membaca dan merenungkan Amanat Tuhan Yesus dalam buku Hidup Sejati dalam Allah yang berisi wahyu Tuhan yang disampaikan melalui ibu Vassula Ryden.

Suatu saat dalam hati saya muncul pertanyaan: “Apakah tugas saya?” padahal sejak tahun pertama mengikuti SEP saya ditunjuk menjadi Seksi Pewartaan Lingkungan dan pada tahun ke-2 ditunjuk pula menjadi seksi Pewartaan Wilayah. Teman-teman sekelas saya telah sibuk dengan pekerjaan pelayanannya masing-masing. Ada yang tetap berkegiatan di SEP, ada pula yang aktif di lingkungannya masing-masing, serta ada yang menghibur orang sakit di rumah sakit atau mengunjungi orang yang di penjara.

Saya mempunyai seorang teman sekelas yang berceritera bahwa dia dikaruniai kemampuan untuk mengetahui apa yang akan terjadi (nubuat) pada seseorang. Oleh karena itu saya minta tolong menanyakan apakah tugas saya nantinya. Beberapa hari kemudian dia mengatakan bahwa  saya disuruh menunggu 1-2 bulan lagi, nanti saya akan mengetahui tugas saya. Satu atau 2 bulan lagi berarti akan jatuh pada bulan April atau Mei 2009. Kemudian saya menjalani kegiatan sehari-hari seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya, ditambah dengan doa penyerahan kepada Hati Kudus Yesus, doa kepada St. Michael, doa memorare St. Bernardus, dan doa rosario.

Benarlah; pada bulan Mei terbaca dalam buku Hidup Sejati dalam Allah yang menarik hati saya kalimat sebagai berikut:

“Engkau telah ditunjuk untuk memberitakan Injil. Aku memilih kelemahan untuk menunjukkan Kuasa-Ku, dan memilih kemiskinan untuk menunjukkan Kekayaan dan Kebijaksanaan. Jangan pernah mengaku berjasa sendiri untuk dirimu. Tinggalah ‘bukan apa-apa’, agar Aku dapat menyelesaikan Karya-Ku.” (BC Vass. 37, tgl 30.10.89).

Saat bertemu dengan teman saya segera saya memberi tahu bahwa saya sudah tahu tugas saya yaitu memberitakan Injil. Waktu yang dia sampaikan kepada saya cocok yaitu masih dalam 1-2 bulan karena jatuh pada bulan Mei 2009. Ini adalah kejutan yang pertama.

Tentang tugas saya, saya merasa bahwa dia tidak begitu “tertarik” karena tugas itu adalah tugas biasa – tugas umum orang Kristen yang tertulis didalam Injil (Mat 28 :19-20). Saya sendiri merasa sudah melakukan tugas itu sejak tahun pertama ikut SEP. Jadi saya merasa bahwa hal ini “hanya” semacam peneguhan bahwa saya sudah dipersiapkan sejak lama yaitu sebagai seksi Pewartaan. Saya juga berpikir : makanya saya dibuat Tuhan begitu bersemangat membaca Injil.

Saya mempunyai seorang sahabat lama yang saya kenal sejak kira-kira tahun 1995. Waktu itu dia tiba-tiba muncul di rumah saya bersama teman saya – yang sebelumnya juga belum dikenalnya- dalam urusan membuat lagu. Walaupun usianya jauh lebih muda dari saya, kami menjadi akrab, tetapi sejak kira kira tahun 2000 kami sudah sangat jarang bertemu. Hubungan hanya melalui SMS atau telepon biasanya untuk saling mengucap Selamat Natal atau Paskah. Dia sering membuat kejutan bagi saya.

Pada awal April 2009 yang lalu saya ditelpon oleh dia, memberitahukan kepada saya bahwa dia sudah memutuskan untuk berpindah ke iman Katolik. Pada tanggal 6 April dia akan dikukuhkan masuk Gereja Katolik dan pada tanggal Kamis Putih 9 April ikut komuni pertama. Memang sebelumnya dia penganut Protestan Pantekosta, tetapi menikah dengan pemberkatan secara Katolik dengan istri Katolik pada tahun 1999, di mana saya menjadi salah satu saksi pernikahan mereka.

Kami segera terlibat pembicaraan yang cukup akrab, termasuk pembicaraan tentang kegiatan rohani masing-masing. Pada kesempatan itu saya juga bercerita buku Hidup Sejati dalam Allah dan menawarkan kepada dia untuk membacanya. Kemudian pada tanggal 3 Mei dia datang ke rumah saya untuk meminjam Buku Hidup Sejati dalam Allah jilid pertama. Dia pun meminjami saya sebuah buku yang berjudul Lamb’s Supper yang ditulis oleh Scott Hahn. Mengenai buku yang dia bawa ini, dia tidak membicarakannya sebelumnya di telpon.

Pada tanggal 22 Mei dia membuat kejutan lagi. Melalui SMS, dia menawarkan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh saya. Dia melemparkan idenya: bagaimana kalau dia membuatkan website/blog untuk saya, yang berisi kesaksian kehidupan saya setelah membaca buku Hidup Sejati dalam Allah. Dia bertugas membuat websitenya, saya bertugas menulis content-nya.

Saya mengatakan bahwa saya akan berdoa dahulu sambil memikirkan tawarannya. Saya benar berdoa minta arahan apa yang harus saya jawab kepada teman saya. Juga karena saya tidak boleh ingin menjadi ini atau itu (BC Vass 31). Beberapa hari berlalu tanpa terjadi apa –apa. Selama itu saya berpikir  sehingga mengetahui resikonya apabila saya menulis di internet. Sampai pada suatu malam saya bermimpi.

Saya berada pada suatu ruangan kosong yang cukup luas, dimana lantai ruangan tersebut terbuat dari kayu. Saya bertugas untuk menghaluskan lantai kayu tersebut karena kayunya masih kasar, perlu digosok menggunakan kertas gosok. Saya mencoba menggosok sedikit lantai kayu itu tapi merasa bahwa pekerjaan yang saya lakukan tidak akan selesai-selesai dan akan sangat melelahkan saya karena ruangannya cukup luas- kira kira sebesar ruangan bermain basket. Kemudian muncul ide dalam mimpi saya bahwa pekerjaan akan lebih cepat dan lebih ringan apabila saya menggosok dengan mesin gosok (saya memiliki mesin semacam ini dirumah). Setelah terbangun saya menjadi mengerti bahwa mimpi aneh ini berkaitan dengan internet yang berfungsi seperti mesin gosok; lebih cepat dan tidak melelahkan. Saya menghubungi teman saya, bercerita tentang mimpi saya dan menyatakan kesanggupan saya untuk menulis di website -nya.

Sekarang anda membaca tulisan saya karena mimpi menggosok lantai yang telah saya alami. Mimpi kemudian mewartakan kesaksian yang dimuat di internet adalah sesuatu yang tak pernah terbayangkan oleh saya. Hal ini menjadi kejutan kedua bagi saya.

Pertemuan dengan teman saya ini rasanya sungguh aneh dan saya merasa sudah dipersiapkan oleh Tuhan sejak lama. Hal ini bagi saya merupakan kejutan yang ketiga.

(Bersambung ke bagian berikutnya: Benarkah saya dipilih?)