2 – Mimpi 3 Hari tentang Kejadian yang Sama

Berikut ini adalah salah satu yang saya alami, di tahun 1994, setelah saya membaca buku Hidup Sejati dalam Allah dari Jilid 1 s/d jilid 3. Selama 3 malam berturut-beturut saya bermimpi tentang kejadian sama sebagai berikut.

Saya dibawa Yesus di suatu tempat, keluar dari bumi, keluar dari galaksi, sampai di suatu ruangan yang berkabut seperti di film-film. Yesus mengatakan inilah ruang Pengadilan Terakhir dimana setiap manusia/pribadi dihakimi nantinya setelah ia meninggal.

Di hadapan saya ada suatu layar yang besar (seperti bioskop) dan di sampingnya ada satu neraca timbangan (timbangan emas). Di ruang tersebut selain saya ada 6 orang sebagai berikut.

  1. Seorang pengusaha perempuan katolik dan seorang pengusaha perempuan muslim.
  2. Seorang di kota besar dan seorang pendeta di kota kecil / pedalaman.
  3. Seorang pengemis muda dan seorang tukang becak.

Pengusaha Katolik dan Pengusaha Muslim

Lalu menghadaplah dengan berani pengusaha perempuan Katolik dan berkata sebagai berikut.

“Yesus, aku sudah kenal Engkau sejak masa mudaku, aku banyak memberikan hartaku kepada orang-orang miskin, sekarang aku sudah mati dan sesuai janjimu maka aku akan bersama dengan Engkau di Surga.”

Yesus bertanya kepadanya, “Apakah engkau mengasihi Aku?”
Dijawab dengan lantang, “ Aku mengasihi Engkau Yesus”.
Yesus bertanya lagi, “Apakaha engkau mengasihi Aku?”
Dijawab lagi, kali ini dengan suara pelan, “Aku mengasihi Engkau, Yesus.”

Yesus bertanya lagi, dengan suara penuh kasih, “Apakah engkau mengasihi Aku?”
Dijawab dengan bercucuran air mata, “Aku mengasihi Engkau, Yesus.”
Yesus berkata, “Baiklah kita lihat kehidupanmu selama di dunia.”

Lalu di layar diputarlah gambar-gambar kehidupan pengusaha tersebut dari sejak dilahirkan di dunia (bayi dari perut bundanya) sampai dengan akhir hayatnya. Di dalam kehidupannya memang pengusaha ini sukses dan terberkati, tetapi ternyata harta kekayaan / berkat yang didapat adalah dari memeras buruh-buruhnya, staff-staff-nya dan bawahannya. Dia memerintah dengan tangan besim tanpa “kasih” bahkan sumpah serapah keluar dari mulutnya jika dia marah. Staff / buruhnya sangat menderita bekerja pada dia. Berkat yang dia dapat memang disumbangkan ke orang miskin tetapi hanya sedikit dengan hartanya. Dia menyumbang hanya sebagai syarat/nampak sebagai orang sukses dan terberkati Tujan, kelihatan baik hati tetapi dia tidak menyumbang dengan hati.

Kemudian Yesus bertanya lagi dengan suara penuh kasih, “Apakah engkau mengasihi aku?”
Pengusaha ini terdiam dan hanya bisa menangis tersengguk-sengguk.

Kemudian Tuhan Yesus menampakkan kepada semua yang hadir di situ layar kehidupan dari pengusaha muslim. Pengusaha ini walaupun berkatnya tidak sebanyak pengusaha katolik tadi, setiap malam, di saat semua orang di kotanya todur, dia berkeliling di kotanya tersebut, memberi makan dan minum kepada orang-orang miskin di sana. Dia memperhatikan dan mendengarkan keluh kesah orang-orang miskin itu, bahkan dia pun menangis jika itu sangat menyedihkannya. Dia mendoakan orang-orang miskin itu.

Lalu Yesus berkata kepada pengusaha Katolik dan memandangnya dengan kasih, “Orang ini tidak mengenal Aku, tetapi mengenal Bapa-Ku. Walaupun jalannya berliku, dia juga sampai kepada-Ku.” Pengusaha Katolik itu semakin menangis dan gemetar dan diam seribu basa.

Romo dan Pendeta

Lalu menghadaplah seorang romo di kota besar. Romo ini cukup terpandang di kotanya. Gerejanya adalah gereja yang megah. Umatnya juga banyak yang kaya dan berkecukupan.

Yesus bertanya kepada romo ini dengan kasih, “Apakah engkau mengasihi Aku?”

Romo ini berkata, “Yesus! Aku ini anak-Mu. Jelas-jelas aku mengasihi-Mu. Sejak kecil kau panggil aku dan aku ikut melayani Engkau sebagai romo. Tuhan … bagaimana mungkin aku tidak mengasihi Engkau?”

Yesus berkata, “Baiklah kita lihat layar kehidupanmu. Romo ini memang dipilih Tuhan sejak masa kecilnya. Ia diberkati dan melayani. Tetapi dia memilih melayani di gereja-gereja di kota-kota besar, dengan umat yang banyak. Dia merasa bangga mengadakan misa dipenuhi ratusan hingga ribuan umat. Dia merasa punya power, ambisi yang besar. Sama seperti kebanyakan umatnya, di dalamnya dia tidak mempunyai kasih, kasih untuk melayani sesamanya.

Yesus bertanya lagi kepada romo ini, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Romo ini terdiam, terpaku, terdunduk malu dan gemetar ketakutan.

Yesus lalu menunjukkan layar kehidupan seorang pendeta muda. Di layar tersebut nampak garis kehidupan pendeta tersebut. Dari kecil dipilih Tuhan, setelah terpanggil ia memilih pelayanan di hutan-hutan rimba. Gerejanya adalah di tengah hutan, dikelilingi pohon-pohon lebat. Umatnya adalah suku-suku pedalaman dan akhirnya pendeta muda ini pun meninggal karena sakit di pedalaman tersebut.

Lalu Yesus bertanya kepada romo itu lagi: “Apakah engkau mengasihi Aku?” Romo ini tertunduk malu, terdiam, tubuhnya bergetar karena tajut.

Pengemis dan Tukang Becak

Lalu Yesus bertanya kepada si pengemis muda, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dengan lantang dijawabnya, “Tuhan! Aku ini  seorang pengemis. Di Kitab-Mu tertulis aku memang tidak memiliki kerajaan dunia. Yang kumiliki nantinya adalah Kerajaan Surga. Selama di dunia aku bukanlah seperi orang-orang kaya umumnya yang banyak harta dan menikmatinya, tetapi aku menderita dan miskin. Apakah Engkau tidak mengasihi aku dan memenuhi janji-Mu, Tuhan?”

Yesus berkata, “Baik, kita lihar layar kehidupanmu. Nampak saat pemuda ini menjadi miskin, dia adalah seorang pemimpinnya. Dia yang membentuk, mengkoordinir pengemis-pengemis lainnya. Di ujung senja dia menerima upah dari bawahan-bawahannya yang pengemis itu dan uang upahannya tersebut habis digunakan untuk berfoya-foya sesuai hasil hari itu.

Lalu Yesus menampakkan garis kehidpan seorang tukang becak yang mati tua. Dia menghabiskan hidupmya mengayuh becak untuk menghidupi dua orang anaknya. Dia memang lugu dan bodoh sehingga hanya bisa jadi tukang becak. Tapi Tuhan memberkati tukang becak ini sehingga kedua anaknya bisa lulus kuliah dan bekerja. Setelah itu tukang becak ini meninggal karena penyakit kanker paru-paru.

Yesus bertanya kepada pengemis muda, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Pengemis muda itu diam dan tubuhnya menggigil ketakutan. Giginya sampai bergemeretak.

Lalu ditutuplah layar kehidupan tersebut dan di hadapan mereka terbentang neraca emas tadi. Ukurannya besar kecil tergantung dari seberapa lama umur mereka di dunia. Semakin tua neraca semakin besar. Sisi kanan melambangkan kebaikan yang mereka buat selama hidup dan sisi kiri melambangkan kejahatan yang mereka buat.

Jadi jika berat di kanan: Anda masuk surga
Berat di kiri    : Anda masuk neraka
Berat sama     : Anda masuk api penyucian

(Mimpi tentang neraca di atas sejalan dengan apa yang dinyatakan dalam 1 Kor 3:12-15 dan Yak 2:14-17. Red).
Hukum Kasih

Tuhan Yesus tidak menunjukkan kepada saya bagaimana nasib semua orang tersebut, karena saya sudah tahu jawabannya. Tetapi lalu Tuhan Yesus menampakkan di hadapan saya suatu bara api yang besar dan melingkar serupa dengan karangan bunga ucapan selamat nikah atau kematian yang besar dan berseru dengan tegas di hadapan saya dan berkata:

“Roy, Ajaran-Ku dan Hukum-Ku adalah sama dahulu, sekarang dan selamanya.” Inilah tulisan yang saya lihat di karangan api itu:

1.    Kasihilah Tuham Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwau dan dengan segenap akal budimu, dan
2.    Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Yesus berkata, “Sebarkanlah ini kepada anak-anak-Ku supaya mereka mengerti dan melakukan Hukum Kasih-Ku ini.”

Surga, Neraka, dan Api Penyucian

Lalu semuanya gelap gulita dan Tuhan dengan cahaya kemuliaan-Nya menggandeng tangaku dan menunjukkan Surga, Neraka, dan Api Penyucian.

Surga

Sebelum masuk Surga, di pintu gerbang Surga Rasul Petrus berdiri dengan gagahnya dan menjaga dan menanyai satu per satu antrian banyak orang yang hendak masuk Surga. Rasul Petrus bertanya dengan tegas, “Namamu siapa?” Orang tersebut menjawab sesuai nama baptis mereka, misalnya: Yohanes. Di tangan Rasul Petrus ada 1 kitab yaitu: Kitab Kehidupan. Di situlah diperiksa nama tersebut ada tidaknya. Hanya yang ada namanya yang boleh masuk Surga.

Pertanyaan kedua adalah : Saya mendengar mereka mempunyai password / kata lunci sebelum masuk Surga tersebut. Ketika mereka ditanya passwordnya, ada yang menjawab “Puji Tuhan”, “Halleluyah”, dan sebagainya. Kata-kata ini adalah kata dimana jika orang tersebut berdoa mereka lepas bebas dari urusan duniawi dan merasakan jamahan Tuhan saat mereka di dunia.

Saya dibawa sebentar oleh Tuhan masuk Surga, yang saya ingat hanyalah suasana damai, penuh cahaya kemuliaan. Saya tidak kuat ketika dari jarak jauh melihat Kerajaan Surga tersebut. Cahayanya sangat putih sekali yang sempat saya lihat karena posisi saya saat itu rebah, sujud dan mendongakkan kepala hanya bisa sebentar-sebentar dalam hitungan detik karena cahaya itu begitu kuat. Saya tidak bisa lama-lama memandang. Betul-betul luar biasa dan tidak bisa saya ucapkan dengan kata-kata kemualiaan dan kebesaran Allah dan Kerajaan Surga tersebut.

Seperti di film-film kerajaan umumnya dari masuk setelah pintu masuk : berjejer dengan rapi orang–orang suci dan rasul-rasul Tuhan. Semakin dekat dengan “tahta Allah“, adalah orang yang semakin suci dan berkenan di hadapan Allah. Di singgasana-Nya : saya melihat Allah Bapa serupa dengan orang yang berumur, bijaksana dan sangat mulia (saya tidak kuat melihatnya karena begitu terang cahayanya), kemudian di sebelah kanan-Nya duduk Yesus yang kita kenal, matanya penuh kasih dan memancar sempurna kasih itu (saya juga tidak kuat memandang lama-lama dan dalam posisi rebah serta memuji terus halleluya, halleluya (password saya). Dan persis di belakang duduk Yesus, saya melihat figur Bunda Maria, sama seperti Tuhan, matanya memancar penuh kasih. Lalu di atas mereka saya melihat Roh Kudus yang penuh kemuliaan berupa seekor burung merpati. Jauh di atas tahta tersebut, beterbangan malaikat-malaikat surga. Semuanya menyembah termasuk saya dan seluruh isi kerajaan surga tersebut, memuji terus-menerus, akhirnya saya tidak kuat lagi/lemas dan Tuhan membawa lagi saya keluar dari kerajaan tersebut. Tuhan Yesus yang memegang saya adalah lebih sederhana dan pancaran kasih-Nya tidak sedahsyat saat duduk di sebelah kanan Bapa, sehingga saya masih dapat bergandengan tangan.

Neraka

Saya dibawa kembali ke bumi, masuk ke dalam dasar bumi, masuk ke perut bumi, dihadapan saya adalah api dan panas, penuh magma, banyak goa -goa yang terdengar hanya teriakan-teriakan kesakitan dan terus menerus, saya terus pegang rapat tangan Tuhan, saya takut sekali dan Tuhan memberi saya ketenangan melalui pandangan kasih-Nya.

Dii neraka setiap orang dihukum menurut dosanya selama di dunia. Mereka terus dihukum, terus disiksa. Saya sekarang tidak mengingat lagi apa yang disiksa, karena memang ini sudah 15 tahun lalu kejadian mimpi ini dan memang saya tidak mau mengingatnya, karena memang ngeri saat itu suasananya. Hanya teriakan- teriakan. Lalu saya dibawa Tuhan Yesus kembali keluar dari neraka tersebut.

Api Penyucian

Saya tidak ingat ini dimana, suasana saat itu sepi / gelap. Tetapi api penyucian ini hampir sama dgn neraka, goa yang gelap / hitam. Di api penyucian ini dosa seseorang masih dapat kita doakan agar bisa di ampuni dan masuk surga.

Tetapi melalui penglihatan saya ditunjukkan: banyak umat ke gereja di dunia ini, tetapi doa-doa mereka kebanyakan untuk masalah-masalah mereka sendiri. Sangat sedikit doa yang benar-benar untuk orang-orang di api penyucian tersebut.

Dari doa-doa yang tersaring tersebut, hanya berupa satu tetesan air di suatu kubangan air mancur kecil seperti di film-film romawi. Tetesan saja bukan aliran air. Setiap tetesan jatuh, dirasakan kelegaan di api penyucian tersebut dari orang-orang yang disiksa.

Oleh sebab itu Tuhan berpesan : gunakan waktumu sebaik mungkin di dunia untuk melakukan hukum kasih tadi, karena di zaman sekarang sangat lama dan sedikit kelegaan tersebut di api penyucian.

Semoga kasih, damai, sukacita, kesehatan jasmani dan rohani, penyembuhan penyakit tubuh/jiwa dan roh kami, perlindungan dari yang jahat, mujizat yang nyata tiap hari, mahkota kehidupan, catatan nama dalam Kitab Kehidupan, istana baik di surga maupun di bumi yaitu : kedamaian dan ketenangan di hati dari Tuhan menyertai kita sekeluarga dan orang-orang yang kita cintai sekarang, selalu dan selamanya. Amin .

(Kesaksian ini telah saya sharingkan dengan PD muda-mudi saya waktu itu, yaitu 1994, serta saya tulis dan bagikan ke adik saya sewaktu stress di Australia tahun 1994-1995, dan saya bagikan akhir-akhir ini ke PD-PD sata tahun 2008 dan ke FB teman-teman saya, tahun 2009).