3 – Tetaplah Kecil

Dalam BC 9.2.89 antara lain tertulis :

“Tinggallah kecil dan sederhana. Jangan mencoba menjadi ini atau itu.Tetaplah kecil, supaya kalian dapat merayap masuk kedalam lubuk Hati Kudus-Ku.”

Dulu, sewaktu belum mengetahui pedoman tersebut, saya pernah mencoba menjadi trainer untuk para murid Sekolah Evangelisasi Pribadi. Setelah diuji ternyata gagal, dengan nilai paling jelek. Hal tersebut meninggalkan bukan kekecewaan tapi rasa malu, karena gagal. Setelah mengetahui kalimat tersebut, saya tidak ingin menjadi apa-apa lagi. Kalau ada yang menyuruh, kebetulan saya bisa, ya berangkat.
Pada bulan Desember 2009, di Paroki kami sedang masanya mulai pergantian pengurus Lingkungan,Wilayah, Dewan Paroki dan termasuk juga Asisten Imam. Saya tak menghiraukan kegiatan tersebut dalam arti tak ingin menjadi apa-apa, seandainya dijadikan pengantar undanganpun saya terima, seperti yang telah saya lakukan. Saya mengetahui, karena diberi tahu lewat pengumuman, bahwa dari Lingkungan kami ada yang diusulkan menjadi Asisten Imam, tetapi keputusannya ada dalam tangan Romo Paroki. Calonnya ada tiga, dimana calon lainnya dari Lingkungan  yang lain. Pada suatu saat, ada yang memberitahukan bahwa saya ditunjuk sebagai yang terpilih dari para calon yang ada. Setelah dijelaskan bahwa semua orang ya pasti tidak layak, pasti semuanya berdosa, akhirnya saya menerima tugas tersebut. Tugasnya adalah membantu Romo membagi komuni dalam Misa maupun orang yang menerima komuni di rumahnya. Untuk membagi komuni di gereja, yang paling saya tidak berani, atau enggan adalah menuju tabernakel tempat hosti dan monstran disimpan. Karena di sanalah Tuhan Yesus bersemayam. Untuk membagi komuni kepada orang dirumahnya, ini adalah berat bagi saya karena harus mengambil hosti lagi-lagi di tabernakel, membawa  hosti ke rumah orang yang akan menerima komuni yang harus dengan cara sedemikian sehingga penuh hormat. Apalagi sepanjang hidup yang saya lewati, saya paling enggan menengok orang sakit karena tidak tahu harus berbuat apa. Jadi saya pikir ini adalah kesempatan yang diberikan kepada saya oleh Tuhan Yesus untuk menebus kekurangan saya yang dahulu, karena kurang melakukan tindakan kasih.

Saya juga merasa lebih beruntung karena tugas ini adalah tugas liturgi yang lebih dekat dengan masalah kerohanian, sehingga lebih mendekatkan saya kepada masalah rohani. “Tetaplah kecil” kemudian menjadi pedoman saya, sebab kalau dulu saya ingin menjadi trainer dan gagal akhirnya menderita malu. Tetapi kalau tidak mencoba menjadi ini atau itu, saya tidak menderita apa-apa. Hal ini tentu terasa aneh bagi dunia karena menghalangi untuk maju – katanya – tapi itulah yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus. Santo Paulus mengatakan bahwa keinginan dunia berlawanan dengan keinginan Roh. Dalam 2 minggu yang akan datang saya akan berusaha mulai mengirim komuni kepada seseorang di rumahnya. Semoga hal ini bisa menutup kekurangan saya dalam melakukan kasih.

Petrus C.A.

Bersambung ke No. 4