Amanat yang Membawa pada Pertobatan dan Kehidupan yang Kudus

Perkenalan saya dengan buku “Hidup Sejati Dalam Allah” adalah sekitar Desember 1999. Sama seperti Vassula yang pertama-tama ragu menerima wahyu pribadi ini, saya pun pada awal mula membaca buku ini agak ragu-ragu apakah ini benar-benar wahyu pribadi yang sesuai dengan kitab suci atau bersumber dari yang jahat ? Namun perasaan itu hanya sekilas saja dan saya pun terus melanjutkan untuk membaca beberapa halaman. Dan saya pun menemukan suatu kesejukan dan kekaguman yang luar biasa yang berasal dari amanat-amanat ini. Begitu menyentuh perasaan saya saat itu. Oh alangkah indahnya tulisan ini. Ada suatu kekuatan besar yang menarik saya yang membuat saya tak pernah bosan atau lelah membaca buku Hidup Sejati Dalam Allah.

Pertamakali yang terlintas dalam diri saya adalah : “ini dia…yang saya tunggu-tunggu..”. Suatu jawaban atas kehidupan pribadi saya yang galau, letih lesu serta impulsif. Tuhan telah menyapa saya sesaat setelah membaca buku itu. Dan entah apa yang ada dalam diri saya, sejak saat itu saya agak bersemangat dalam berdoa dan pergi ke gereja. Mungkin Tuhan telah membangkitkan saya dari kematian spiritualitas.

Dan hal ini terus berlanjut sampai saat ini dan pemahaman akan amanat-amanat Allah membutuhkan proses dan bimbingan dari Allah dan Bunda Maria. Apalagi kita dituntut tidak hanya membaca saja namun juga turut mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan ingin kita berubah dan hidup sesuai dengan hukum-hukumNya yakni kasih, damai dan kerendahan hati. Perlu diingat juga bahwa amanat-amanat Yesus kadang-kadang menggunakan bahasa simbol namun tidak membuat pembaca bingung. Sehingga yang diperlukan adalah keterbukaan hati si pembaca yang mau dibimbing oleh Roh Kudus. Ada satu kata-kata Yesus yang membuat saya tertarik yakni : “Anak-anakKu, datanglah kepadaKu seperti apa adanya engkau. Jangan menunggu sampai menjadi seorang santo agar engkau dapat datang kepadaKu….”

Sejak saat itu saya memutuskan untuk terus menerus intensif dalam membaca dan merenungkan semua pesan-pesan Allah itu. Saya menjadi semakin haus dan lapar akan firman-firman Allah . Amanat-amanat ini membuat saya semakin yakin bahwa kita tidak sendirian di dunia ini. Allah Bapa kita di dalam Yesus adalah Allah yang Hidup dan selalu bersama kita dalam setiap langkah kehidupan kita. (Matius 28 : 20; Yoh
14 : 18).

Dengan demikian secara ringkas saya dapat bersaksi bahwa dengan amanat-amanatNya maka:

  1. Saya semakin menyadari kekayaan dan misteri-misteri yang luar biasa yang dimiliki oleh Sang Juru Selamat kita Yesus Kristus.
  2. Saya semakin mengerti kitab suci karena amanat-amanat Yesus membuktikan bahwa kitab suci telah dan sedang digenapi.
  3. Bunda Maria merupakan Bunda umat manusia sekaligus Ibu sejati kita. Peranan Bunda Maria ini sangat luar biasa dalam membawa kita – putra-putriNya – kepada keselamatan kekal. (Wahyu 11 : 3 – 6 ; Wahyu 12 : 1 – 6; Sirakh 40 :1)
  4. Peneguhan terhadap tradisi gereja Katolik dan kita wajib menjaga tradisi-tradisi tersebut karena hal tersebut membawa kita kepada keintiman dengan Allah Tritunggal Maha Kudus.
  5. Persatuan gereja akan segera terjadi dan kita termasuk umat yang “terpanggil” masuk ke dalam anggota gereja yang satu, kudus, katolik, dan apostolik. Bentuk kongkret dari persatuan gereja adalah urusan Yesus bukan urusan kita. Namun yang perlu kita sadari bahwa kita harus banyak berdoa demi persatuan dan kesetiaan para gembala seluruh dunia dengan Bapa Suci Johanes Paulus II (yang telah merintis usaha-usaha menuju persatuan Gereja Timur dan Barat) maupun Paus Benediktus XVI.

Pada akhirnya Amanat-amanat “Hidup Sejati Dalam Allah” telah membawa saya pada pertobatan dan mencoba untuk hidup kudus karena Yesus adalah Kudus. Secara langsung maupun tak langsung amanat-amanat ini seperti Pohon dan buahnya (Lukas 6 : 43 – 45). “Dari buahnyalah pohon itudikenal…”, kata Yesus pula kepada Vassula.