Dikhianati Suami, Mendapat Kebahagian Bersama Yesus Berkat Buku HSDA

Sungguh bukan kebetulan saya sampai ke website ini. Tuhan Yesus telah menunjukkan bahwa saya tidak sendiri. Sama seperti Bapak Petrus yang tergerak untuk mengasihi Tuhan melalui buku Hidup Sejati Dalam Allah, demikian pula saya.

Melalui buku itu Yesus memperkenalkan diri-Nya kepada saya, yang saat itu mengalami penderitaan, yaitu dikianati suami dan disiksa badani oleh suami. Melalui penderitaan itu, saya dimurnikan oleh Tuhan sendiri. Saya memang kehilangan suami. Suami saya tidak ada niat untuk kembali setelah 11 tahun perselingkuhan. Kami belum resmi bercerai.

Tetapi Tuhan menggantinya dengan berkat-berkat lain yang sungguh luar biasa. Yang pertama-tama dan terpenting adalah berkat pertobatan saya sehingga saya boleh mengalami Tuhan di dalam hidup saya. Berkat yang lain adalah gelar PhD lulusan Australia. Sekarang saya boleh tinggal di Australia bersama kedua putri saya (tanpa suami), dan saya mendapatkan pekerjaan di Australia yang memampukan saya terlepas bebas dari uang dari suami. Baru-baru ini saya telah diberkati lagi oleh Tuhan dengan diperolehnya izin tinggal tetap (permanen resident) di Australia. Suatu berkat luar biasa lagi. Selain itu saya masih tetap diberi pekerjaan untuk nafkah saya dan kedua anak saya. Terima kasih Yesus!

Sekarang saya berhasil bangun dari penderitaan badani dan rohani. Itu berkat campur tangan Yesus melalui buku Hidup Sejati dalam Allah. Semua ini adalah berkat Tuhan yang luar biasa untuk saya. Benarlah apa yang tertulis “Carilah dahulu kerajaan Allah maka semuanya akan ditambahkan bagimu”. (Mat 6:33).

Saya sudah membaca berkali-kali buku Hidup Sejati dalam Allah jilid 1-6 yang berbahasa Indonesia. Kemudian saya mengulang lagi yang berbahasa Inggris jilid 1- 12. Saya dulu juga cuma pergi ke gereja karena kebiasaan saja. Saya sudah merasa cukup dengan tidak berbuat dosa besar. Ternyata sekarang ini saya semakin tahu arti penebusan Yesus, dan sungguh kasih Tuhan itu hal yang nyata. Buku-buku rohani sekarang menjadi kegemaran saya dan saya menjadi tidak tertarik untuk hal-hal kenikmatan dunia.

Saya juga mengerti bahwa kehidupan doa itu penting sekali sebagai landasan kita hidup. Hidup doa saya ini semua diajari oleh Tuhan Yesus dan melalui Roh KudusNya sendiri. Di Australia saya tidak pernah ikut retret atau pendalaman kitab suci dll. Tetapi Yesus mengajari saya sendiri. Suatu hal yang sulit dipercaya tetapi hal ini sungguh terjadi.

Karena tujuan hidup kita ini adalah untuk mencapai kesucian bersama Tuhan, doa itu penting sekali. Kalau ibu Teresa dari Calcuta berbicara ‘Berilah sampai dirimu merasa sakit’, mungkin sekarang ini saya mengusulkan berdoalah sampai dirimu merasa sakit. Teman saya bilang kalau kehidupan doa kita berhenti, maka kita bukannya berhenti juga, tetapi malah kita mundur, seakan-akan digembosi.

Saya mengirim kesaksian ini hanya sekedar untuk bertukar kegembiraan saya bersama Yesus. Dalam permulaan saya juga mempunyai semangat untuk membagi-bagi buku True Life in God (HSDA bahasa Inggris) kepada siapa saja yang mungkin saya gapai. Tetapi sungguh sayang kebanyakan dari mereka tidak tertarik. Padahal sungguh kebahagian yang Tuhan berikan lewat buku itu sungguh tak tergantikan. Makanya hati saya melonjak kegirangan ketika membaca website bapak Petrus dan teman sejati bapak ini.

Sampai sekarang ini saya masih sulit untuk mengampuni suami 100%. Hal ini terlihat ketika saya meditasi untuk pengampunan, hati saya masih menyimpan sakit hati. Saya menyadari sakit hati yang saya punyai ini akan selalu menjadi perintang kesatuan hati dengan Yesus. Jadi mohon saya didoakan supaya saya bisa mengampuni dengan lebih sempurna.

Salam kasih,

BDA