Pengantar oleh Pastor James Fannan

Sewaktu pertama kalinya saya berbicara kepada Vassula pada musim semi tahun 1986, saya tidak dapat membayangkan bahwa pada suatu hari saya akan menyusun pengantar kepada wahyu Hati Ilahi Kristus. Malahan, reaksi pertamaku cukup negatif. Alasan saya yang sebenarnya untuk berjerih payah mempelajari tulisan ini ialah untuk menemukan kesalahan dan meyakinkan Vassula agar berhenti. Namun, sambil waktu berlalu, sedikit demi sedikit saya menyadari bahwa orang yang saya kenal itu tidak mungkin merupakan sumber kebijaksanaan yang saya temukan dalam tulisan-tulisan itu. Pada waktu itu dia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang teologi ataupun kitab suci. Meskipun demikian, sewaktu menulis, ia menyatakan suatu pengetahuan mendalam tentang hal-hal yang ilahi. Namun, tulisannya sendiri tersusun dengan cara sederhana dan orisinal, bukan dalam bahasa katekismus ataupun teologi. Inilah bahasa seseorang yang mengetahui kebenaran dan mengungkapkannya dengan cara yang tidak lazim. Lambat laun saya mulai yakin akan kebenaran yang dipercayakan oleh Yesus kepadanya bersamaan dengan suatu amanat bagi zaman kita.

Mula-mula, kesederhanaan bahasa tulisan Vassula dapat menimbulkan kesangsian dalam diri pembaca apakah amanat ini benar-benar datang dari Allah. Mungkin kita lupa bahwa Maria, di Lourdes, berbicara dalam bahasa daerah setempat? Pokoknya, untuk dapat memahami apa yang terjadi pada Vassula, kita harus menyadari bahwa dia telah menerima undangan Allah untuk menjadi sarana bagi Sabda-Nya. Bagaikan alat musik seorang musikus, ia memiliki keunggulan tersendiri yang menjadi bagian tak terpisahkan dari karya akhir yang dibagikan oleh Musikus Ilahi dengan dia.

Karena kita berurusan dengan amanat dari Allah, pembaca dapat saja heran menghadapi gaya sastra naif pada bagian awal amanat ini. Seperti diketahui dari studi Kitab Suci, sebagian besar Perjanjian Baru, yang aslinya ditulis dalam bahasa Yunani, tidaklah ditulis dalam bahasa Yunani yang anggun. Sebabnya ialah, karena kebanyakan penulisnya, meskipun diilhami oleh Roh Kudus, tidak menggunakan bahasa Yunani sebagai bahasa ibunya. Mereka menggunakan gaya dan kosa kata mereka sendiri. Dengan cara serupa, amanat ini pun sesuai dengan cara Vassula sendiri mengungkapkan dirinya. Namun pada halaman-halaman selanjutnya terjadi perkembangan yang luar biasa, tidak hanya dari segi teologis tetapi juga dari segi sastra.

Dalam bahasa teologi mistik, Vassula menerima lokusi interior (batin). Vassula tidak melihat Yesus dengan mata jasmaninya, dan tidak pula mendengar Dia dengan telinga jasmaninya. Ia melihat dan mendengar Allah dengan cara spriritual, namun dengan jelas dan nyata. Allah benar-benar berbicara kepadanya, tetapi Ia berbicara kepadanya sesuai kemampuannya, bukan bahasa seorang teolog profesional. Meskipun demikian, bahasa sederhana ini mengungkapkan kebenaran yang mendalam dan nyatanya sering sama dengan yang digunakan Allah dalam Kitab Suci. Ini bukan bahasa filsafat ataupun teologi kontemporer. St. Paulus meggambarkan metode pengajaran ilahi ini seaktu ia berkata: “Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan oran-orang bijak akan Kulenyapkan. Di manakah orang yang berhikmat sekarang …?” (1 Kor 1:19-20).

Sebagaimana lazimnya dalam hidup setiap manusia, Vassula dan para mistikus lain pun harus terus menerus menerangi kelemahan manusiawi mereka sendiri untuk dengan bebas menerima karunia kuasa Allah yang berkarya dalam hidup mereka. Maka, dalam tulisannya kita membaca, betapa beratnya bagi Vassula memahami kenyataan, bahwa ia menerima karisma ini. Para mistikus sejati selalu menyadari dengan sedalam-dalamnya bahwa mereka bukan apa-apa; sesungguhnya kuasa Kerahiman dan Kasih Allah demikian mengagumkan, bahwa mistikus (dalam hal ini Vassula) tergoda untuk menyangsikannya.

Meskipun banyak mistikus telah menerima karunia lokusi batin, Vassula memiliki karunia yang istimewa; Yesus nyata-nyata menuntun tangannya. Kita dapat membandingkan hal ini dengan seorang instruktur tenis yang bersama muridnya, melalui gerakan-gerakan yang tepat, nyata-nyata menuntun tangan muridnya itu. Ini bukan sekedar rasa ingin tahu dalam wahyu ini. Yesus mengingatkan kita kembali akan suatu kenyataan yang sering kali terlupakan dalam dunia modern ini: Allah aktif di dalam dunia dan Ia bersatu dengan kita. Seperti dikatakan oleh Yesus: “Aku adalah Pokok Anggur, kalianlah ranting-rantingnya … di luar Aku kalian tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh 15:5). Terlalu sering kita lupa bahwa Kasih Ilahi telah membentuk suatu persatuan akrab dengan kita semua.

Cukup penting untuk diingat bahwa dalam kenyataannya wahyu yang diterima Vassula bukanlah hanya, atau terutama, demi kepentingannya sendiri. Allah ingin agar kita semua menyadari bahwa Ia mengasihi kita masing-masing. Ia ingin agar kita semua menyadari bahwa Ia adalah “Pendamping Surgawi” kita. Kasih Ilahi inilah yang pertama-tama harus kita pahami, bila kita berharap dapat menangkap intisari amanat ini.

Tulisan-tulisan ini sesungguhnya sebuah seruan yang mendesak supaya kita semua bertobat secara pribadi; suatu proses yang menantang kita setiap hari. Pertobatan merupakan suatu proses terus menerus untuk tumbuh dalam kasih Kristus dan untuk melepaskan diri dari segala sesuatu yang dapat memisahkan kita dari Dia. Tulisan-tulisan ini merupakan himbauan Sang Kasih sendiri; suatu himbauan akan kasih kita. Tulusan-tulisan ini merupakan peringatan kepada kita bahwa perintah Allah yang pertama dan utama adalah mengasihi Dia lebih dari semua orang dan hal, dengan segenap hati, akal budi, jiwa dan daya. Ini adalah seruan Allah untuk bersembah sujud. Ini merupakan seruan kepada kita untuk haus akan Allah, mengakui kemiskinan kita sendiri dan kebutuhan serta ketidakberdayaan kita sendiri. Amanat ini adalah ajakan untuk meninggalkan diri kita sendiri demi menemukan Hidup Sejati dalam Dia.

Allah yang menyatakan diri-Nya pada halaman-halaman buku ini adalah terutama Bapa yang penuh kasih. Ia adalah “Abba” yang dikenal Yesus, dan yang dikenal dan dikasihi oleh St. Paulus. Sebagai Bapa yang penuh kasih dan Mempelai Surgawi Gereja, Allah menggunakan bahasa Kasih, bahasa yang seyogyanya menjadi bahasa akrab mereka yang membaca Kitab Suci, sebab di dalam buku itu pun Allah menyatakan diri-Nya dengan berbagai cara sebagai sumber dan teladan segala kasih manusiawi. Ini adalah kasih seorang Bapa yang juga seorang Guru.

Sebagai seorang guru, Ia menggunakan bahasa sederhana yang ditujukan kepada kita semua. Ia sering pula mengulangi diri-Nya setiap saat secara bertahap Ia memajukan kita. Bahasa-Nya yang penuh kasih, sederhana dalam ungkapannya, dan seringnya pengulangan tema, yang pada saat pengulangan menjadi semakin mendalam, dapat menjadi masalah bagi sejumlah pembaca. Namun bila kita tetap bersikap seperti anak, kita akan dapat mengatasi hambatan ini dan masuk ke dalam kawasan Kebijaksanaan.

Sangatlah jelas dalam tulisan-tulisan ini bahwa bila kita berniat menanggapi seruan kasih Allah, kita harus memiliki iman anak kecil. Hal ini merupakan sesuatu yang sulit bagi banyak imam, dan juga bagi orang-orang masa kini. Kita suka berpendapat bahwa pengetahuan kita sudah memadai untuk dapat mengendalikan hidup kita sendiri. Yesus minta, agar kita menyerahkan kebebasan kita sebagai persembahan kepada-Nya, dan agar dalam penyerahan diri yang total kita dapat menemukan kebebasan sejati dan hidup dalam Dia. Saya kini menyadari, bahwa sebelumnya saya cenderung yakin bahwa saya memiliki paham cukup lumayan tentang telogi dan Kitab Suci. Seperti kebanyakan imam, saya cenderung lupa bahwa Yesus menjanjikan Roh Kudus untuk memperjelas paham akan Kitab Suci dan Tradisi, Wahyu umum yang istimewa itu, yang menjadi bagian utama Gereja.

Ada suatu kedalaman arti dalam Kitab Suci yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan ekegese (ilmu tafsir Kitab Suci) ilmiah. Bila kita berhenti pada titik itu, kita serupa dengan kaum Farisi di zaman Yesus yang membeku dalam sejarah dan tertutup bagi dinamika alam Allah sebagai pendamping Kudus umat manusia. Meskipun dinubuatkan dalam Kitab Suci, Yesus terlalu baru dan “berbeda” bagi sementara orang untuk dapat diakui sebagai penggenap harapan mereka. Yang kita butuhkan adalah iman anak kecil yang tidak menghambat karya Roh pada masa sekarang ini. Roh anak kecillah yang dapat membuat kita mengalami Allah sebagai Yesus, dan hal ini dialami St. Paulus: Abba surgawi kita. Lalu kita mengalami kasih akrab seorang anak terhadap pribadi yang sejati, yang dialami sebagai seorang Bapa sejati.

Sikap anak-anak bukan hanya sesuatu yang menyentuh spriritualitas pribadi kita. Dalam wahyu ini, Kristus menyatakan dengan jelas bahwa kunci persatuan Kristen, yakni persatuan religius semua anak-Nya, memanglah kerendahan hati dan kasih. Justru kurangnya kerendahan hati dan kasih kitalah yang menyebabkan persatuan ini sepertinya tidak mungkin. Meskipun demikian, Yesus meyakinkan kita bahwa Ia akan “segera” meraihnya dengan kuasa-Nya dan Kemuliaan-Nya sendiri. Jadi, akan ada “satu kawanan dan Satu Gembala”. Doa-doa Yesus pada Perjamuan Malam Terakhir tidaklah akan sia-sia.

Sumber: Buku “Hidup Sejati dalam Allah”, Penerbit Mega Media Abadi, Jilid II